Senin, 25 Mei 2009
Guru Belajar untuk Kreatif Ajarkan Ilmu Sosial
JAKARTA, SABTU - Untuk meningkatkan kreativitas para guru-guru dalam mengajarkan mata pelajaran ilmu-ilmu sosial di sekolah, Universitas Negeri Jakarta menyelenggarakan Workshop Nasional 'Penerapan Model Pembelajaran Inovatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial Di Sekolah' di Jakarta, Sabtu (17/5).
Menurut Ketua Panitia Workshop, Djafar, workshop sehari ini diikuti oleh para guru ilmu sosial dari SD, SMP hingga SMA dari seluruh nusantara. "Di tengah maraknya sertifikasi guru, kami harap guru-guru yang ikut dapat meluruskan niat, dengan antusiasme yang besar, untuk mengembangkan diri dan bukan hanya menanti-nanti sertifikat," ujar Djafar.
Workshop ini akan membahas dua topik besar dalam pembelajaran ilmu sosial, seperti transdisiplinaritas ilmu-ilmu sosial dalam pendidikan di sekolah serta model-model pembelajaran ilmu-ilmu sosial di sekolah dengan menghadirkan dua pakar pendidikan, yaitu Conny R. Semiawan dan Diana Nomida Musnir.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNJ Ahmad Hussein mengatakan bahwa workshop ini juga diadakan sebagai bagian dalam rangkaian acara Pekan Ilmu Sosial FIS UNJ. "Guru yang baik adalah guru yang mau terus belajar. Daripada mikirin sertifikat, lebih baik berfokus bagaimanakah mendidik generasi muda sehingga masa Indonesia emas 2050 realistis untuk kita canangkan," tukas Ahmad.
Banyak Guru Belum Paham Paradigma Pembelajaran
JAKARTA,SABTU - Pergeseran paradigma proses pendidikan, menurut pakar pendidikan Diana Nomida Musnir, agaknya belum dipahami sepenuhnya oleh para pendidik di Indonesia. Perubahan paradigma dari 'pengajaran' ke 'pembelajaran' merupakan perpindahan pusat proses pendidikan dari guru ke murid, dari transfer pengetahuan ke transformasi pengetahuan. Pasalnya, guru sendiri belum siap dengan kondisi ini.
"Misalnya, akhir-akhir ini karena ramai isu kenaikan BBM, kita sering dengar istilah 'barrel' tapi nggak paham tentang istilah itu," ujar Diana dalam Workshop Nasional Penerapan Model Pembelajaran Inovatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial Di Sekolah di Jakarta, Sabtu (17/5). Diana sempat menanyakan makna 'barrel' ke para peserta workshop namun ternyata banyak yang tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, menurut Diana, perubahan paradigma tersebut meminta para guru untuk memperkaya diri terlebih dahulu sehingga anak didik memperoleh wawasan yang kaya pula.
"Bagaimana kita mengharapkan anak didik kita utuh kalau kita sendiri tidak utuh dan tidak belar untuk utuh? Ini bisa dapat dicapai bukan dengan pembelajaran monodisiplin, multi maupun inter, tapi transdisiplin," ujar Diana. Selain itu, pada faktanya kebutuhan murid belum dijadikan sentral oleh para guru supaya potensi murid dapat digali secara optimal. "Kita ini adalah pelayan anak. tapi sampai sekarang ini, kita banyakan menuntun anak atau malah menuntut," tandas Diana.
Proses pembelajaran harus dikembangkan menggunakan prinsip pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan, atau yang biasa disebut PAKEM. Secara aktif, guru harus belajar memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan yang menantang atau mempertanyakan siswa. Secara kreatif, guru harus mampu mengembangkan kegiatan yang beragam dengan alat bantu yang sederhana.
"Tantangan biasanya adalah alat bantu yang mahallah atau apa, tapi sebenarnya guru bisa mulai dengan sederhana, memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita untuk menantang murid kreatif. Murid yang kreatif itu yang bisa merancang membuat sesuatu, menulis dan mengarang," tukas Diana.
Sedangkan untuk membuat sesuatu yang menyenangkan, guru harus belajar untuk tidak membuat anak takut ketika salah atau tidak menganggapnya remeh. Caranya yang sederhana, menurut Diana, melalui raut muka yang tidak segera berubah ketika anak salah menjawab sehingga anak tersebut tidak takut lagi mengeluarkan pendapatnya dalam kesempatan lain.
LIN
Portal Pembelajaran Online untuk Sekolah
JAKARTA, KOMPAS.com- Portal pembelajaran online yang terlindungi dan bisa dipakai sebagai alat pembelajaran bagi guru dan siswa di sekolah maupun lintas negara disediakan secara gratis oleh Oracle Education Fopundation. Sekolah bisa bergabung dengan platform ThinkQuest milik Oracle Foundation Education yang menyediakan program teknologi pembelajaran yang sudah dipakai dari TK -SMA di seluruh dunia secara gratis.
Sebagai langkah untuk mempercepat penggunaan ThinkQuest, Oracle Education Foundation menandatangani nota kesepahaman dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Selasa (31/3). Kesepakatan ini meliputi pelatihan guru untuk bisa mengimplementasikan pembelajaran dengan memanfaatkan ThinkQuest.
Taufik Yudi Mulyanto, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi bisa membantu untuk terciptanya proses belajar mandiri oleh siswa. DKI Jakarta sendiri bertekad untuk bisa meningaktkan mutu pendidikan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.
Taufik mengatakan, di semua SMA/SMK negeri di Jakarta sudah tersambung jaringan internet. Di swasta, sekitar 70 persen sudah menggunakan fasilitas internet. Di akhir tahun ini, semua SMP dan SMA/SMK sudah terhubung ke jaringan internet.
Adi J Rusli, Managing Director Oracle Indonesia, menjelaskan pelajar Indonesia sejak tahun 2006 sudah menggunakan ThinkQuest untuk meningkatkan pembelajaran di dalam kelas. "ThinkQuest menganjurkan kerjasama tim, kolaborasi, dan mengerti kebudayaan pelajar lain. Kemampaun tiu snagat dibutuhkan pada ekonomi berbasis pengetahuan di masa sekarang ini," kata Adi.
Di Indonesia, sampai saat ini sudah 690 sekolah yang bergabung dengan anggota 13.375 siswa dan guru. Untuk pendaftaran bisa mengakses di www.thinkquest.org atau www.oraclefoundation.com
ELN
Sudah Saatnya Kembangkan E-learning di Indonesia
Laporan Wartawan Kompas, R Adhi Kusumaputra
JAKARTA, SABTU - Presiden Direktur PT Aplikanusa Lintasarta, Noor SDK Devi (47) berpendapat, sudah saatnya di Indonesia dikembangkan program belajar e-learning. Kerja sama yang dijalin perusahaan penyedia jaringan ini dengan PT Medialand International dan PT Danawa Indonesia, kata Noor, akan memanfaatkan program jarak jauh dengan proses belajar yang interaktif.
"Dengan e-learning, semua bisa belajar di mana saja dan kapan saja, tidak tergantung waktunya. Bisa saat sedang travelling. Bisa juga saat bekerja sehingga tak perlu meninggalkan kantor. Program e-learning lebih luwes. Bahkan siswa atau mahasiswa bisa mengambil kredit lebih banyak," kata Noor SDK Devi, yang mengaku awalnya bercita-cita menjadi guru Taman Kanak-Kanak.
Menurut Noor, Gramedia dapat menjadi motor utama program e-learning karena sumber daya yang luar biasa sudah tersedia. Dengan e-learning, program mencerdask an bangsa dapat dikembangkan. Sebab tidak hanya untuk SD, SMP, SMA tetapi juga untuk mendapatkan gelar S1, S2 bahkan S3 sekalipun.
"Modul e-learning tergantung pada pengelola dan disesuaikan dengan kurikulum. Misalnya Gramedia kerja sama dengan MIT, atau dengan ITB, UI," kata perempuan yang bernama lengkap Noor Suseno Drupadi Krishna Devi itu. Noor menambahkan, program ini semacam virtual university dan jumlah mahasiswanya bisa banyak.
PT Lintas Media Danawa, anak perusahaan baru dari tiga perusahaan besar itu, juga akan mengembangkan bisnis game online . Bentuknya beragam dan sangat canggih. Game online ini bisa dilakukan antarnegara.
KSP
Jumat, 22 Mei 2009
KACA : Guruku Harus Asyiik
Guru galak, pelajaran nge-bosenin, plus suasana kelas yang menegangkan? Ugh...males banget, deh ! Kalau situasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) saja sudah seperti itu, jadi susah kan buat kita untuk 'nangkep' pelajarannya.
Gimana sih guru yang asyik saat ngajar? Biar siswa cepet 'nangkep' pelajaran dan gak mudah bosen?
"Mengajar yang asik itu yang gak gitu-gitu terus. Ya pake sensasi gitu, gak harus di kelas melulu." Ungkap Anis Noor Pratama siswi kelas XI SMAN 1 Bantul. "Apalagi kalo ngajar tanpa diselingi bercanda, bakal nge-bosenin, jadi sama aja deh kalo memperhatikan, tetep gak jelas," tambahnya.
"Guru itu harus santai, nyenengin, baik sama murid, kalo diajak sharing nyambung." ujar Bima Andhika siswa SMPN 2 Pandak. Tidak beda dengan yang diungkapkan Andika Pradana, siswa kelas X SMK N 2 Depok Jurusan Teknik Komputer Jaringan. Menurutnya, supaya pelajarannya menyenangkan, guru itu harus bisa mengerti kondisi muridnya dan jika dalam mengajar ada yang kurang jelas dimengerti oleh muridnya, guru harus dapat membuat muridnya mengerti apa yang disampaikan, tanpa membuat murid itu merasa 'bodoh'.
Siswa akselerasi SMAN 1 Yogya, Rochvi Agus Dewantoro, yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) juga mengatakan hal yang serupa.
"Sebenarnya sih, situasi kelas biasa aja. Soalnya kita semua udah kompak banget. Tapi, kalau suasana waktu pelajaran sih tergantung gurunya. Kalau gurunya aja udah asik, ya cara 'nangkepnya' pelajaran juga jadi enak." Paparnya panjang lebar. dia juga menambahkan, kalau guru yang baik, harus lebih bisa memotivasi muridnya. Apalagi kalau murid sudah mulai merasa bosan. Dukungan dari guru sangat diperlukan. Setidaknya, guru bisa menjadi teman bagi muridnya.
Rata-rata murid itu pengennya kalo pas pelajaran emang harus nyenengin. Tapi, gimana sih, kalo diliat dari guru itu sendiri?
Bapak Drs Wardal, Guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 1 Bantul menuturkan guru yang asyik itu pokoknya membuat siswa seneng dengan pelajaran, penyampaiannya harus variatif dengan berbagai metode, gurunya menguasai materi dan bisa menguasai kelas. Nah, bukan hanya murid saja kan yang mengatakan seperti itu. Guru yang mengajar dengan asyik ternyata sangat mempengaruhi minat belajar. Ya, jadi seneng sama pelajaran yang diampu gurunya. Terus jadi tambah semangat belajarnya. Tetapi, banyak faktor yang membuat guru kita jadi kurang asyik saat mengajar. "Ketidaksiapan guru dalam materi, masalah keluarga yang dibawa -bawa saat mengajar dan bisa juga itu bukan panggilan profesi." Tutur Pak Wardal.
Kita juga sering nemuin guru yang gak asyik, tetapi kita juga harus cepet- cepet beradaptasi, harus seneng dengan gurunya, seneng sama pelajarannya, dan harus punya rasa keingintahuan yang tinggi agar pelajaran yang kita hadapi itu serasa keinginan kita untuk dipelajari. Biar gak jenuh, walau gak asyik. Begitu saran Bapak Wardal.
"Oh ya, guru juga harus sabar. Kalau ngajar jangan sering marah-marah, biar muridnya sayang ma gurunya dan kalau kayak gitu pasti otomatis bisa seneng sama pelajarannya." Tambah Andhika.
Terus kalau mereka bosan pada saat pelajaran, mereka ngapain, ya?
"Ya, kan karakter guru tuh berbeda-beda. Cara menyampaikan pelajaran pun berbeda-beda. Kalau misalnya udah ngebosenin, lebih baik kita diam. Paling tidak gurunya tahu kalau kita sedang memperhatikan. Kalau nggak, mending kita baca buku yang materinya sedang di bahas. Kan kita juga gak ketinggalan materi," ungkap Muhammad Aji Wibowo yang juga siswa akselerasi SMAN 1 Yogya.
Berbeda dengan Aji, Rochvi dan Andika mengatakan kalau pelajarannya udah nge-bosenin, mereka bisa saja Online MXit (Instant Message) dan bercanda sama teman. Tapi, dengan catatan tetap pada batasnya. "Ditinggal ngobrollah, dengerin MP3 atau iseng-iseng nulis cerpen. Hehe.." komentar Anis.
Lain lagi dengan Bima yang tetep memperhatikan walau ketemu dengan guru yang kurang asyik. "Kalo gak memperhatikan malah dimarahin gurunya. Misal, saat gurunya sedang ngejelasin ada siswa yang gak merhatiin, gurunya langsung marah tanpa bertanya penyebab siswa itu ramai, emosi dikeluarkan oleh guru dengan marah-marah." Tambah Bima yang kalo diajar dengan guru yang gak asyik punya perasaan deg-degan.
Nah, dari apa yang telah dikatakan oleh teman-teman kita, bisa di tarik kesimpulan, kalau siswa tuh senang sama guru yang asyik, gak mudah marah-marah, dan perhatian pada muridnya. Kebanyakan guru yang asyik ngajarnya itu emang harus bisa ngertiin siswanya. Begitu juga dengan siswa yang harus ngertiin apa yang membuat guru jadi gak asyik. Tapi, bukan berarti guru itu harus menuruti semua kemauan siswa. Guru juga harus bisa konsisten dan bertanggung jawab pada pekerjaannya.
So, menurut berbagai pendapat yang kita ketahui. Semua itu sangat mempengaruhi hasil belajar siswa, terutama seorang yang sangat mulia di bidang pendidikan yaitu seorang pahlawan tanpa tanda jasa merupakan faktor pendukung utama dalam belajar. Bagaimanapun juga, guru harus tetep enjoy. Enakan belajar gak usah serius banget tapi tetep masuk ke otak atau yang penting tetep bisa 'nangkep', daripada gak bisa? Iya kan?
(Yuni Uswatun Khasanah dan Nur Azizah KT)-s
Rabu, 22 April 2009
STRATEGY ACTIVE LEARNING
C. TEKNIK MEMBUAT SISWA AKTIF BELAJAR
Proses pembelajaran yang terjadi selama ini siswa menerima materi dari guru tanpa analisis kritis dari siswa, sehingga guru merupakan pusat informasi dengan segala interpretasinya sendiri. Guru menerima informasi pertama dari sumber bahan ajar, kemudian disampaikan kepada murid, sehingga murid menerima informa kedua yang bersumber dari guru. Hal ini menyebabkan siswa pasif, kurang informatif, salah interpretatif kerana mendapat informasi sumber kedua, bukan sumber pertama.
Setelah mendapat informasi dari sumber kedua, murid tidak diberi kesempatan untuk menganalisis secara kritis materi yang disampaikan guru. Padahal, murid adalah sosok manusia yang mempunyai potensi unggul yang dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran. Potensi kritis yang dimiliki oleh siswa menjadi tidak berkembang, sehingga mengakibatkan perkembangan kemampuan daya pikir siswa juga tidak berkembang.
Cara pertama untuk membuat siswa aktif belajar adalah dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan sumber informasi pertama. Siswa dibimbing dan diarahkan kepada sumber belajar pertama, seperti fenomena sosial, buku, majalah, surat kabar, jurnal, hasil penelitian dan sebagainya. Semua sumber informasi pertama disajikan kepada siswa, sehingga siswa akan melakukan beberapa hal, sepereti :
a. Membaca, memahami dan mengerti informasi dengan cermat
b. Mengidentifikasi maslah
c. Memecahkan masalah
d. Mengambul kesimpulan
e. Melaksanakan kesimpulan
Siswa akan merasa dihargai, dihormati dan diperhatikan oleh guru, sehingga dalam dirinya timbul dan tumbuh kepercayaan untuk memecahkan beberapa persoalan. Sifat problem solving menurut siswa akan membangkitkan motivasi dan semangat siswa untuk mbelajar aktif. Apabila pemecahan masalah selalu diberikan oleh guru, siswa menjadi pasif, kurang bergairah belajar dan mendorong siswa menjadi pendengar pasif.
Cara kedua untuk membuat siswa aktif belajar adalah dengan mengajak berpikir kritis. Guru menyajikan materi dengan analisis guru, akan berbeda dengan dengan siswa yang menerima informasi dengan berpikir kritisnya siswa. Ketika siswa diberi kesempatan untuk mengkritisi materi pelajaran, siswa akan melakukan beberapa hal, antara lain :
a. Mengidentifikasi masalah dengan pertanyaan kritis
b. Membuat kunci pokok untuk membuat hipotesis
c. Menyusun data dan fakta
d. Menguji validitas hipotesis dengan cara berpikir kritis.
Dengan melakukan hal seperti diatas, siswa akan mendapat : 1) pengetahuan, yang mencakup : a) Pengetahuan fakta, yakni semua informasi dan data yang dapat diperiksa ketepatannya dan telah diterima secara umum kebenarannya. b) Pengetahuan secara konseptual, yakni ide umum dalam pikiran seseorang yang menggunakan tindakan yang menghasilkan nilai dan sifat umum. c) Pengetahuan generalisasi, yakni pernyataan umum atau teori yang menyatukan beberapa konsep dengan makna yang luas. 2) Ketrampilan akademis, yang meliputi : a) Ketrampilan akademis sederhama, seperti mengingat, menafsirkan, menerapkan, menganalisis, mensintesis dan menilai. b) Ketrampilan akademis penyelidikan sampai ketrampilan yang valid, seperti bertanya dan memahami masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, menafsirkan, merumuskan generalisasi dan membuat kesimpulan akhir. c) Ketrampilan akademis berpikir kritis sampai berpikir kreatif . 3) Sikap dan nilai yang baik, dan 4) Ketrampilan sosial, mencakup a) Tingkah laku dalam pergaulan, baik resmi maupun tidak resmi b) Ketrampilan dalam mengorganisasi secara cerdas, teliti dan sopan.
D. METODE ACTIVE LEARNING
Dalam praktek proses pembelajaran, teknik belajar aktif diatas, tidak serta merta dapat dilakukan oleh guru dan siswa. Ada dua hal yang dapat dilakukan Guru
Pertama menggunakan pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang biasa dipergunakan antara lain :
a. Pendekatan rasional, yaitu suatu pendekatan dalam proses belajar mengajar yang lebih menekankan pada aspek berpikir, baik berpikir induktif maupun deduktif.
b. Pendekatan emosional, yaitu upaya menggugah perasaan (emosi) siswa dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa
c. Pendekatan pengalaman, yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkan dan merasakan hasil hasil pengalaman belajar dalam menghadapi kehidupan sehatri hari
d. Pendekatan pembiasaan, yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk membiasakan sikap dan perilaku, baik yang sesuai dengan dengan ajaran agama maupun yang sesuai dengan budaya bangsa dalam menghadapi persoalan hidup
e. Pendekatan fungsional, yaitu menyajikan materi pokok dari segi manfaatnya bagi siswa dalam kehidupan sehari hari
f. Pendekatan keteladanan, yaitu menjadikan fihur guru sebagai cermin bagi siswa, sehingga guru adalah figur yang dapat di gugu dan ditiru.
Kedua, memilih dan menentukan suatu metode untuk mendorong siswa aktif belajar. Banyak metode yang biasa dilaksanakan dalam proses belajar mengajar selama ini, seperti :
g. Metode Ceramah
h. Metode Diskusi
i. Metode Tanya Jawab
j. Metode Resitasi
k. Metode Karyawisata
l. Metode Demonstrasi
m. Metode Eksperimen, dan sebagainya
Pengalaman penggunaan metode diatas selama ini telah membuat sistem proses pembelajaran menjadi kaku dan hasilnya kurang memuaskan. Hal ini terbukti dengan adanya kualitas pembelajaran dan mutu pendidikan selalu dipertanyakan, bahkan dinilai mutu pendidikan sangat rendah. Sudah barang tentu penyebab satu-satunya bukan penggunaan metode pembelajaran saja, melainkan banyak faktor. Tetapi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, kreatif dan dinamis, diantaranya menggunakan metode pembelajaran aktif.
Dalam strategi active learning, tidak ada metode yang paling benar, tetapi yang ada adalah metode yang palingh tepat dan cocok. Hal ini memerlukan ketrampilan guru untuk dapat memilih dan menentukan metode yang akan dipergunakan. Anjuran bagi guru dalam memilih strategi belajar aktif adalah :
a. Untuk mempraktekkan satu strategi, pilihlah materi yang betul betul sesuai
b. Jangan mempraktekkan strategi terlalu banyak kepada murid
c. Jika memerlukan modifikasi, jangan segan segan untuk melakukannya
d. Dalam satu kali pertemuan, 45 X 2 misalnya, bisa memodifikasi beberapa strategi.
Prinsip umum dalam menggunakan suatu strateri adalah :
a. strategi yang dipergunakan harus dapat membangkitkan motivasi, minat dan gairah belajar siswa
b. Strategi yang dipergunakan harus dapat menjamin perkembangan kegiatan bekajar siswa
c. Strategi mengajar yang dipergunakan harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan hasiul karya
d. Strategi yang dipergunakan harus dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut, melakukan eksplorasi dan inovasi (pembaharuan)
e. Strategi mengajar yang dipergunakan harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi
f. Strategi mengajar yang dipergunakan harus dapat meniadakan penyajian yang bersifat verbalitas dan menggantinya dengan pengalaman atau situasi yang nyata dan bertujuan
g. Strategi mengajar yang dipergunakan harusa dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Metode pembelajaran active learning yang dikembangkan dewasa ini banyak ragamnya. Dalam makalah ini akan ditampilkan beberapa metode yang dianggap sangat cocok dan tepat untuk dipraktekkan dalam pembelajaran di MTs dan MA.
a Listening Teams (Tim Pendengar)
Metode ini salah satu cara untuk membantu siswa agar tetap terfokus dan selalu siap selama proses pembelajaran berlangsung. Metode ini memberikan kesempatan kelas dibagi menjadi kelompok kelompok kecil yang bertanggungjawab menjelaskan materi pelajaran. Listening teams dibantu guru dengan metode ceramah. Langkah lestening teamas adalah sebagai berikut :
1. Kelas dibagi menjadi empat kelompok dan setiap kelompok mendapatkan tugas sebagai berikut :
a. kelompok I : bertugas merumuskan pertanyaan berdasarkan materi yang baru saja disampaikan guru
b. kelompok II : bertugas mendukung materi yang baru saja disampaikan guru dengan alasan alasan logis
c. kelompok III : bertugas menentang materi yang baru saja disampaikan oleh gvuru dengan alasan logis
d. kelompok IV : bertugas memberi contoh/aplikasi materi.
2. Guru menyampaikan materi pelajaran dengan ceramah. Setelah selesei, beri kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyeleseikan tugasnya masing masing
3. Guru meminta masing masing kelompok untuk menyampaikan hail dari tugas mereka
4. Guru memberi klarifikasi secukupnya.
b. Active Debate (Debat Aktif)
Debat bisa menjadi satu metode berharga untuk mengembangkan pemikiran dan refleksi, khususnya jika para siswa diharapkan dapat mempertahankan pendapat yang bertentangan dengan keyakinan mereka sendiri. Debat aktif adalah strategi yang secara aktif melibatkan semua siswa dalam kelas. Langkah langkah debat aktif aalah :
1. Guru mengembangkan materi pelajaran dengan suatu pernyataan yang berkaitan dengan isu kontroversial.
2. Kelas dibagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama sebagai kelompok pendukung (pro) dan kelompok kedua sebagai kelompok penentang (kontra)
3. Selanjutnya, guru membagi kelompok pendukung (pro) menjadi sub sub kelompok. Begitu pula dengan kelompok penentang (kontra). Misalnya dalam satu kelas ada 40 siswa, kelompok pro dibagi menjadi 4 sub sub kelompok yang terdiri dari 5 siswa dan kelompok kontra menjaji 4 sub sub kelompok dan setiap sub kelompok terdiri dari 5 siswa.
4. Setiap sub sub kelompok diminta untuk mengembangkan argumentasi sesuai dengan tugas kelompoknya. Setiap sub sub kelompok menyiapkan juru bicara.
5. Siapkan kursi sesuai dengan jumlah sub sub kelompok pro dan sub sub kelompok kontra. Siswa yang lain duduk dibelakang kelompoknya masing masing untuk memberi dan membantu juru bicaranya. Kursi dapat diatur berhadap hadapan :
Kelompok pro : X X : kelompok kontra
X X
X X
6. Debat dimulai dengan setiap juru bicara mempresentasikan pandangan mereka. Ini disebut argumentasi pembuka
7. Setelah setiap sub sub kelompok telah mendengar argumentasi pembuka, guru meminta debat dihentikan dan setiap sub sub kelompok bergabung dengan kelompoknya masing masing untuk mempersiapkan strategi untuk mengkounter lawannya.
8. Guru dapat meminta untuk melanjutkan debat. Juru bicara yang saling berhadapan diminta untuk memberikan argumentasi penentang. Ketika debat berlangsung, peserta yang lain didorong untuk mencatat berbagai usulan atau bantahan.. Siswa diperbolehkan bertepok tangan atau bersorak sorai untuk mendukung juru bicaranya masing masing.
9. Pada saat yang tepat, akhiri debat. Tidak perlu menentukan kelompok mana yang menang dan mana yang kalah. Buatlah kelas dalam posisi kursi melingkar. Secara bersama siswa diminta untuk memberikan argumentasi tentang debat yang baru saja dilaksanakan.
10. Terakhir, guru memberikan usalan tentang materi yang baru saja diperdebatkan.
c. Point-Counterpoint
Metode merupakan sebuah cara untuk merangsang diskusi dan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai isu kontemporer. Strategi ini mirip debat, hanya dikemas dalam suasana yang tidak terlalu formal. Strategi ini membutuhkan materi pelajaran yang bersifat interpretatif. Contoh :
" Tentang guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Guru adalah soko negara yang membangun negara melalui pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Tugas guru sangat berat untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang cerdas, trampil dan berakhlak mulia. Sementara imbalan yang diterima guru tidak/belum memadai. Hidup guru dengan gaji yang diterima cukup untuk hidup pas pasan, hidup sederhana dan bersahaja. Jasa guru yang besar dengan imbalan jasa yang sangat kecil menimnulkan kesenjangan kesejahteraan masyarakat".
Dalam contoh diatas, terdapat tiga interpretatif :
1. Kelompok Guru
2. Kelompok Pemerintah
3. Kelompok PGRI
Langkah strategi point-counterpoint adalah :
1. Siswa dibagi menjadi tiga kelompok, sesuai dengan interpretatis fdiatas
2. Guru meminta masing masing kelompok untuk mempersiapkan argumentasi sesua dengan pandangan kelompok yang diwakili
3. Tempat duduk setiap kelompok dipisahkan
4. Setiap kelompopk mempersiapkan juru bicara untuk mengemukakan argumentasinya.
5. Guru meminta debat dengan kelompok mana yang mau memulai debat lebih dulu
6. Setelah juru bicara mengemukakan argumentasinya, kelompok yang lain diminta untuk mengoreksi atau membantah argumentasi kelompok lain
7. Debat diakhiri setelah masing masing kelompopk mengemukakan srgumentasinya.
8. Terakhir, furu memberikan ulasan tentang argumentasi tersebuit.
d. Jigsaw Learning (Belajar Model Jigsaw)
Strategi ini sangat menarik untuk dipergunakan jika materi yang akan diberikan dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh siswa dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain. Langkah Jigsaw Learning adalah :
1. Pilihlah materi pelajaran yang dapat dibagi menjadi beberapa bagian
2. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah bagian materi pelajaran yang ada. Jika jumlah bagian materi pelajaran ada 5 bagian dan jumlah siswa dalam kelas ada 40, maka kelas dapat dibagi menjadi 5 dasn setiap kelompok terdiri dari 8 siswa.
3. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi pelajaran yang berbeda beda.
4. Selanjutnya, setiap kelompok ,memilih wakil untuk dikirim kepada kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari di kelompok. Pengiriman wakil kelompok dapat diatur seperti :
Kelompok : I
Kelompok : II
Kelompok : III
Kelompok : IV
Kelompok : V
5. Kembalikan suasana kelas seperti semula, kemudian guru menanyakan apakah ada persoalan yang belum terpecahkan. Jika adala masalah yang belum terpecahkan, guru membantu memberi saran dan solusi.
6. Guru mengecek pemahaman siswa dengan beberapa pertanyaan.
e. Everyone is a Teacher Here (Setiap Orang Adalah Guru)
Stratgi ini sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan dan secara individu. Strategi ini memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berperan sebagai guru bagi temannya sendiri. Dengan strategi ini siswa yang selama ini tidak mau terlibat diskusi atau terlibat aktif kelas, akan ikut serta dalam pembelajaran secara aktif. Langkah langkah strategi everyone is e teacher here adalah :
1. Bagikan secarik kertas/kartu indeks kepada seluruh siswa. Setiap siswa diminta untuk menuliskan satu pertanyaan tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari di kelas.
2. Guru bisa menyiapkan materi pelajaran dengan reding books,
3. Kumpulkan kertas pertanyaan tersebut secara acak dan bagikan kembali kepada siswa. Pastikan siswa tidak mendapat kertas pertanyaan yang ditulisnya sendiri. Guru meminta seluruh siswa untuk membaca dalam hati pertanyaan tersebut, kemudian memikirkan jawabannya.
4. Guru meminta siswa secara sukarela untuk membacakan pertanyaan tersebut dan menjawabnya
5. Setelah pertanyaan dibawa dan dijawab, mintalah siswa yang lain untuk menambah jawaban.
6. Lanjutkan dengan siswa yang lain sampai jam pelajaran berakhir.
PENGORGANISASIAN MATERI PEMBELAJARAN MATERI BAHASA INDONESIA
undefined undefined,
undefined
Bagaimanakah seharusnya materi pembelajaran bahasa Indonesia diorganisasikan? Untuk penjawab pertanyaan tersebut, berikut saran teoritisnya.
1. Pembelajaran bahasa Indonesia dibangun dari kerja sama antara guru dan siswa. Kerja sama itu terbentuk dalam ‘penyepakatan’ bersama tentang kompetensi, tujuan, dan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan. Inisiator pembuka dan penutup kelas bahasa Indonesia adalah guru, yaitu melalui pernyataannya tentang akan dimulainya topik tertentu, kegiatan yang dipilih, atau diakhirinya topik yang baru dibahas. Atas dasar itu, di masa yang akan datang disarankan agar inisiator berpindah ke siswa, agar tercipta kelas bahasa Indonesia yang ‘hidup’.
2. Oleh karena yang terjadi selama ini PBI lebih mengutamakan pada pengetahuan tentang bahasa (form-focused). Atas dasar itu, di masa yang akan datang disarankan agar guru menciptakan kelas menekankan pada pemerolehan bahasa yang sesungguhnya.
3. Oleh karena selama ini sudah menjadi tradisi guru memberikan latihan yang bersifat diskret terhadap salah satu aspek tata bahasa, pada masa yang akan datang disarankan agar guru membangun real-world tasks, yaitu pembelajaran yang berisi contoh ujaran bahasa Indonesia dari wacana autentik dan aktual. Harapannya, input yang diterima siswa adalah input bermakna (comprehensible input), bukan semata-mata input yang direkayasa (modified input).
4. Selama ini, arah interaksi yang tercipta dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah interaksi searah, yaitu dari guru ke siswa, yaitu ‘guru bertanya, siswa menjawab’. Selanjutnya disarankan agar guru mengembangkan interaksi kelas dengan multiarah sehingga tercipta ‘transactional tasks’, yaitu task yang penuh dengan penyampaian ide, perdebatan, menyampaikan opini melalui tulisan.
Berikut ini saran teoritis untuk guru dalam mengorganisasikan materi pembelajaran bahasa Indonesia, berdasarkan hasil riset pemerolehan bahasa kedua.
1. Difokuskan pada ‘pemerolehan bahasa (acquisition)’, bukan pembelajaran bahasa (learning).
Pemerolehan bahasa merupakan proses yang tidak disadari oleh pembelajar bahasa, sedangkan pembelajaran merupakan proses yang disadari. Dalam proses pemerolehan bahasa, siswa tidak mengalami suatu proses pengajaran tentang pengetahuan linguistik atau tatabahasa secara sadar. Dalam belajar bahasa, sebenarnya secara sadar siswa mengalami pengajaran tentang pengetahuan linguistik atau tatabahasa, tetapi yang digunakan dalam berbahasa adalah justru hasil yang tidak disadari.
2. Menciptakan situasi yang alamiah
Pemerolehan bahasa dilaksanakan secara alamiah, sedangkan pembelajaran bahasa dilaksanakan secara tidak alamiah atau artifisial. Penutur bahasa semata-mata memperhatikan pesan yang disampaikan, bukan bentuk ujarannya. Oleh karena itu, kaidah yang diendapkan adalah kaidah implisit. Jadi, guru menghindari ceramah tentang ‘tata bahasa’. Ingat, pernahkah seorang ibu mengajarkan tata bahasa pada anaknya umur tiga tahun? Tahu-tahu, umur empat tahun ia sudah bida berbahasa pertama dengan lancar! Mengapa hal itu tidak kita tiru?
3. Difokuskan pada latihan terus-menerus sebagai penajaman
Bahan penajaman yang dimaksudkan adalah latihan-latihan yang berupa tugas bercakap-cakap (berbicara), membaca sebanyak-banyaknya, menulis terus-menerus, dan menggali informasi melalui mendengarkan. Latihan-latihan yang diberikan selain diberi porsi yang lebih banyak juga harus memberi motivasi yang menyenangkan untuk berlatih terus-menerus. Dengan demikian, kelas bahasa harus memberikan pajanan yang cukup untuk terjadinya proses pemerolehan bahasa, dengan memperbanyak latihan-latihan berbahasa yang produktif. Wujudnya dengan memperluas materi ketrampilan berbahasa praktis dan aktual, baik dalam pengembangan kosa kata, mendengarkan, membaca, bercakap-cakap, dan menulis.
4. Memberi prioritas atau penekanan pada materi yang paling berguna atau dibutuhkan siswa dalam berbahasa, sesuai dengan tujuan belajar bahasanya.
Jika ketentuan ini diikuti, maka apa yang diajarkan akan menjadi masukan yang bermakna. Dalam kurikulum hal itu sudah ditegaskan, bahwa pengajaran bahasa untuk berlatih berbahasa, bukan belajar tentang bahasa.
Dalam mengorganisasikan materi, guru harus mempertim-bangkan kriteria berikut.
1. Pengetahuan dan keterampilan berbahasa yang diperoleh, berguna dalam komunikasi sehari-hari (meaningful). Dengan kata lain, agar dihindari penyajian materi (khususnya kebahasaan) yang tidak bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari, misalnya, pengetahuan tata bahasa yang sangat linguistis.
2. Kebutuhan berbahasa nyata siswa harus menjadi prioritas guru. Bahan-bahan pembelajaran disarankan bersifat otentik.
3. Siswa diharapkan mampu menangkap ide yang diungkapkan dalam bahasa, baik lisan maupun tulis, serta mampu mengungkapkan gagasan melalui bahasa.
4. Kelas diharapkan menjadi masyarakat pemakai bahasa Indonesia yang produktif. Tidak ada peran guru yang dominan. Guru diharapkan sebagai ‘pemicu’ kegiatan berbahasa lisan dan tulis. Peran guru sebagai orang yang tahu atau pemberi informasi pengetahuan bahasa agar dihindari.
5. Tugas-tugas (task) dalam pembelajaran bahasa dijalankan secara bervariasi, berselang-seling, dan diperkaya, baik materi maupun kegiatannya. Harus diingat bahwa kegiatan berbahasa itu tak terbatas sifatnya. Membaca artikel, buku, iklan, brosur; mendengarkan pidato, laporan, komentar, berita; menulis surat, laporan, karya sastra, telegram, mengisi blangko; berbicara dalam forum, mewawancarai, dan sebagainya adalah contoh betapa luasnya pemakaian bahasa itu.
Dalam konteks teori pembelajaran umum, pengorganisasian materi pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar dan menengah harus menekankan pada hal-hal sebagai berikut.
1. Belajar Berbasis Masalah (Problem-Based Learning), yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensintesis, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain (Moffitt, 2001).
2. Pengajaran Otentik (Authentic Instruction), yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Ia mengembangkan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan nyata.
3. Belajar berbasis Inquiri (Inquiry-Based Learning) yang membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
4. Belajar Berbasis Proyek/Tugas (Project-Based Learning) yang membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif di mana lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruk (membentuk) pembelajarannya, dan mengkulminasikannya dalam produk nyata.
5.Belajar Berbasis Kerja (Work-Based Learning) yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di tempat kerja. Jadi dalam hal ini, tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktivitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa.
6.Belajar Berbasis Jasa-layanan (Service Learning) yang memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa-layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa-layanan tersebut, jadi menekanka hubungan antara pengalaman jasa-layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan di dalam masyarakat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan lainnya.
Perlunya pembelajran bermakna
‘jantung’ proses pendidikan. Peningkatan kualitas pembelajaran secara teknis dilakukan oleh guru. Sebagai seorang propfesional, guru tidak hanya melakukan bagaimana pengelolaan kelas yang efektif tapi lebih dari itu, efisiensi dan produktivitas perlu mendapat porsi yang sepadan.Kebijakan pengembangan kapasitas guru difokuskan pada kemampuan akademik, pedagogi dan akselerasi pencapaian profesionalisme. Sikap profesionalis ini terindikasi dari kesungguhan guru dalam mewujudkan mutu pembelajaran yang bermuara pada peningkatan prestasi belajar siswa.Secara konperehensif prestasi siswa adalah total dari seluruh kemampuan siswayang mencakup kemampuan akademik, soft skill dan tertanamnya nilai-nilai etika moral, estetika untuk hidup bersama dalam masyarakat.Meningkatnya nilai Ujian Nasional tidak dapat dijadi ukuran sebuah mutu pembelajaran, karena kegamangan UNAS, guru mengemban misi berat dan rela menjadi “tim sukses“ bagi sekolah bersangkutan. Guru menemukan metode jalan pintas dalam menyelesaian soal. Siswa di-drill berbagai jenis soal, menghapal barbagai jalan pintas tersebut hanya karena takut gak lulus UAN. Padahal bukankah metode jalan pintas tersebut tidak dapat memberi kebermaknaan suatu konsep??. Dan terbukti , siswa mengalami kesulitan sendiri dalam pembelajaran yang lebih tinggi.Disadari atau tidak bahwa pembelajaran tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu ada rencana, aplikasi, evaluasi dan continual improvement, secara radikal dapat dikatakan bahwa perlu ada inovasi pembelajaran yang betul-betul progress terhadap mutu pendidikan. inovasi yang dimaksu adalah kreativitas dan didukung sikap kritis guru dalam me-redisain, memodifikasi dan menemukan ide-ide baru dalam praktek pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode, strategi atau pendekatan yang tak umum guna menumbuhkan minat belajar, kemampuan ----kompetensi, keterampilan siswa dan rasa kebersaman hidup dalam lingkungan sosial secara mandiri, bebas dan bertanggungjawab.
Posted by cik at 9:13 PM
Selasa, 21 April 2009
PEMBELAJARAN BERMAKNA: UBAH GURUNYA BARU MURIDNYA.
Kamis, 2008 April 24
Pembelajaran dengan segenap metodenya, yang beriringan dengan modelnya penyajian, adalah salah satu serpihan teknologi, yakni teknologi pembelajaran. Kini karya-karya unggul bidang pembelajaran muncul, konsekuensinya adalah lahirlah terminology alias istilah-istilah baru. Dalam proses pembelajaran, dari paradigma, model dan penerapannya, juga disentuh oleh kemajuan itu. Akhirnya orang mengenal istilah-istilah ini, mulai dari Quantum Teaching, Quantum Learning, Cooperative Learning, hingga Contextual Teaching Learning. Istilah yang kadang bikin pening, kadang pula juga mengundang tanggapan miring, adalah suatu realita yang menuntut adanya daya suai bagi profesi Guru. Rupanya hal itu menuntut suatu keharusan, dengan kata lain, Guru harus berubah. Pertanyaannya sudah siapkah sang Guru, merubah beton-beton mental yang telah lama membatu, dan sudah menjadi jati diri.
Teknologi secanggih apa pun tak akan mampu diaplikasi, ketika manusia sebagai aktornya enggan merubah mentalitasnya.
Hari ini kita dalam wahana sosialisasi, yang akan mengangkat sebuah materi pembelajaran bermakna, namun jika mentalitas kita memberi jawaban enggan berubah, maka wahana sosialisasi ini tidak memiliki arti.
MENGUBAH MENTALITAS YANG TERLANJUR BEKU & MEMBATU
Bagaimana dengan profesi kita?, Tentunya yang harus kita kedepankan saat ini adalah kerelaan kita untuk berubah.
Model pembelajaran, adalah sebuah metodologi, atau sarana, lebih kasar kita sebut “alat” atau “piranti”. Guru adalah seorang profesionalis yang menjalankan fungsi-fungsinya dengan menggunakan metodologi, kendatipun aturan telah dicanangkan, namun sikap mental masih pada pusaran yang rentan berubah, maka segalanya menjadi kalah dan “mentah”
Kuncinya adalah, saat ini kita harus berubah. Dari paradigma lama menju yang baru.
Know:
Semua stimuli dari akibat interaksi kita dan lingkungan, akan menjadi bahan dasar untuk mengetahui sesuatu, dan selanjutnya berfungsi untuk memicu munculnya perilaku. Workshop kali ini adalah wahana menstimuli, agar meransang munculnya perilaku baru.
Yakni menerima atau menolak, setuju dengan pembelajaran bermakna atau tidak
Believe:
Setelah kita mengetahui sesuatu yang baru, yang sudah disaring oleh keyakinan kita. Keyakinan yang bersumber dari nilai-nilai yang terbentuk di lingkungan. Jika hal itu bermakna, maka kita pasti menerimanya.
Attitude :
Sinergi antara apa yang kita ketahui dengan apa yang kita yakini, dan akhirnya membuahkan perilaku. Hebatnya, metodologi yang baru, apakah Quantum Teaching, Learning, atau Cooperative leraning. Jika Guru tidak yakin akan hal itu, maka hampir dipastikan tidak akan lahir perilaku yang baru.
Behavior :
Perilaku yang ditampilkan oleh seorang Guru, adalah akumulasi dari Know, believe dan Attitude. Ketiga paduan tersebut, acapkali disebut sebagai “software”, sedangkan behavior adalah ‘hardwarenya” Jika seorang Guru dalam memahami pembelajaran bermakna tidak melalui proses know, believe, hingga attitude, maka bekerjanya akan setengah hati.
Habit :
Perilaku yang didemonstrasikan secara konsisten adalah kebiasaan [habit], merupakan bentuk kristalisasi perilaku. Jika hal ini terbentuk, maka Pembelajaran Bermakna, akan menjadi santapan, alias menu utama Guru. Semuanya akan menjadi jalan tanpa hambatan, metode pembelajaran ini kan popular, setara film “ayat-ayat cinta”
Cultutre:
Budaya adalah cerminan dari nilai-nilai yang diketahui dan diyakini. Budaya merupakan pemantapan dari kebiasaan [habit]. Pada tahapan inilah, perilaku seorang-orang sudah melekat dan sulit untuk diubah kembali, kendati ada nilai-nilai yang baru.
Jika ada intervensi nilai yang baru, harus melalui “Learning Process”. Pengalaman yang kita tarik dari pemahaman ini adalah, bahwa workshop ini, tidak serta merta langsung berubah budaya yang sudah membatu dan membeku. Namun tersimpan sebuah kesadaran, yang menyatakan bahwa workshop kali ini adalah utaian dari “learning process”
MEMBANGUN ABILITY TO RESPONSE
Kemampuan-kemampuan itu adalah:
- Ability to fact [kemampuan memahami fakta]
- Ability to basic knowledge [kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan]
- Ablity to evaluation [kemampuan mengevaluasi]
- Ability to analysis [kemampuan analisis]
- Ability to response [kemampuan menanggapi]. adalah kemampuan yang muncul, akibat kemampuan-kemampuan lainnya, seperti: kemampuan memahami fakta; kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan, kemampuan evaluasi dan kemampuan analisis]
Ability to fact [kemampuan memahami fakta];
Jika kemampuan ini telah ada pada diri seorang Guru, maka pengalaman empirinya yang akan mengendalikan apakah sesuatu itu yang diterima inderanya memiliki nilai-nilai manfaat. Jika hal itu tidak menjadikan sebuah ancaman bagi dirinya, dan justru memiliki manfaat besar bagi dirinya, maka akan diterimanya.
Apakah Pembelajaran Bermakna itu, sebuah ancaman bagi eksistensi profesi, atau justru itu membantu Guru ?. Kemampuan inilah yang mengendalikannya.
- Hadirnya Pembelajaran Bermakna, harus diterima, karena fakta telah menunjukkan eksistensinya
Ability to basic knowledge [kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan]
Guru hampir semuanya telah memiliki kemampuan ini, tidak ada seorang pun yang mengatakan tidak. Semua Guru telah memilikinya, telah menyadarinya, dan merupakan bagian dari profesinya.
“Jika” selalu diikuti “Maka”. Jika seorang Guru enggan mengubah paradigmanya, maka akan disisihkan oleh zaman.
Hadirnya pengetahuan baru, model pembelajaran baru, tidak harus ditunggu, tapi diantisipasi.
- Hadirnya Pembelajaran Bermakna, harus diterima, karena pengetahuan telah mengawalnya.
Ability to evaluation [kemampuan mengevaluasi]
Kemampuan ini adalah, bagian yang melekat pada profesi Guru. Setiap berpikir bertindak, dan berperilaku selalu mengedepankan kemampuan ini. Tentunya ketika menjalankan profesinya, seorang Guru selalu memberikan pertimbangan akan manfaat, dan keruginya. Menimbang kemungkinan risiko yang dihadapinya. Hadirnya model pembelajaran baru, hampir dipastikan merupakan “rekayasa nilai-nilai” [reengineering] atas model pembelajaran yang lama.
- Hadirnya Pembelajaran Bermakna, harus diterima, tidak perlu diragukan lagi, karena merupakan rekayasa nilai-nilai atau metode yang mendahuluinya.
Ability to Analysis [kemampuan analisa]
Merupakan kemampuan dalam mengurai permasalahan secara detil, dan menggunakan berbagai dimensi ketika memandang sesuatu masalah. Guru sadar atau tidak telah lama memiliki dan menggunakannya. Guru setiap menjalankan profesinya, selalu melakukan tahapan ini. Bahkan Guru-guru telah lama melakukan Penelitian Tindakan Kelas [PTK], jauh sebelum PTK se-populer saat ini. Saat ini PTK populernya hampir menyamai seorang artis seperti Kridayanti. Namun Guru tidak mampu menuliskannya, kedalam bahasa tulis ilmiah.
Kalau di analisa lebih tajam, sebenarnya Guru-guru telah lama mengaplikasikan berbagai metode pembelajaran yang sesuai dengan zamanya, termasuk metode pembelajaran bermakna. Namun Guru masih ragu apakah yang dilakukan itu telah memenuhi kaidah bermakna.
- Hadirnya Pembelajaran Bermakna, harus diterima, karena yang sebenarnya Guru-guru telah lama melakukannya, tetapi ada keraguan apakah yang dilukukan itu, Pembelajaran yang bermakna.
Ability to response [Kemampuan menaggapi]
Adalah kemampuan yang muncul, akibat kemampuan-kemampuan lainnya, seperti: kemampuan memahami fakta; kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan, kemampuan evaluasi dan kemampuan analisis.
Bagi profesi seorang Guru, kemampuan managgapai adalah citra diri dalam melihat dirinya [self image].
Detilnya antara lain:
- Kemampuan dalam memahami kompetensi [competency]
- Kemampuan untuk meciptakan visi [Vision] sebagi harapan dan cita-cita
- Kemampuan untuk memberikan makna pada hidupnya yang diwujudkan dalam bentuk pemaknaan misi [Mission] hidupnya
- Kemamuan menggunkan kompetensinya untuk mewujudkan visi dan misinya dalam bentuk strategi yang dijalankan
- Kemampuan menterjemahkan strategi sebagai aksi.
- Hadirnya Pembelajaran Bermakna, harus respon secara positif, karena kompetensi Guru, yang didalamnya menggambarkan Visi, Misi, Startegi, dan Aksi. Semuanya adalah bagian dari kekuatan atau potensi profesi.
MENGAPA PEMBELAJARAN BERMAKNA
Kita diingatkan oleh adigium yang dibangun dari reklame minuman.
Pertama: Kapan saja, Dimana, saja “Minum” Metode Pembelajaran Bermakna
Kedua: Apapun “makanan” model pembelajarannya , “minumnya” model pembelajaran bermakna.
Tapi mengapa model pembelajaran bermakna ?
Tentunya harus dikembalikan pada fakta sebenarnya, karena jika dilacak sebuah pembelajaran harus diindikasikan pada tingkatan yang kondusif, menyenangkan, dan kontekstual.
Mencuplik dari buku “Menggagas Pendidikan Bermakna”, buah pikir Prof. Muchlas Samani, bahwa apapun model pembelajaran, maka harus bermakna [meaningful learning]. David Ausubel, adalah seorang orang ahli psikologi pendidikan, menurut Ausubel [1966] bahan pelajaran yang dipelajari harus “bermakna’ [meaning full]. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah sipelajari dan dingat siswa.
Suparno [1997] mengatakan, pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seorang-orang yang sedang dalam proses pembelajaan. Pembelajaran bermakan terjadi bila siswa mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan pelajaran itu harus cocok dengan kemampuan siswa dan harus relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, pelajaran harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimilki siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya. Dengan demikian, factor intelektual emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran bermakna, adalah pembelajaran yang menyenangkan, pembelajaran yang menyenangkan, akan memiliki keunggulan dalam meraup segenap informasi secara utuh, konsekuensi akhirnya adalah meningkatkan kemampuan siswa.
Anlogi seperti yang ditulis oleh Taufiq Pasiak, dalam penelitiannya terhapad tikus yang mendapat perlakuan penekanan[stressor] dan tikus yang enjoy [tanpa stressor]. Hasil penelitian menujukkan bahwa intervensi dari luar [berupa stressor] akan mengubah struktur otak , terutama pada kadar reseptor dan neurotransmitter. Ringkasanya perlakuan stresoor [tidak] menyenangkan akan menurunkan kemampuan tangkapannya.
Sejalan dari pemikiran itu Bobbi DePorter, mengenalkan lompatan pembelajaran yang menyegarkan dan menyenangkan. Dengan mengubah energi potensial siswa menjadi cahaya, menjadikan semuanya bermakna. Oleh karenanya motede pembelajaran yang dikreasi Bobbi, memberikan jargon, T-A-N-D-U-R dan AMBAK.
Berikut kerangka rancangan Belajar Quantum Teaching yang dikenal sebagai TANDUR
- TUMBUHKAN. Tumbuh- kan minat dengan memuaskan “Apakah Manfaat BAgiKU “ (AMBAK), dan manfaatkan kehidupan pelajar
- ALAMI. Ciptakan atau datangkan pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar
- NAMAI. Sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebuah “masukan”
- DEMONSTRASIKAN. Sediakan kesempatan bagi pelajar untuk ‘menunjukkan bahwa mereka tahu”
- ULANGI. Tunjukkan pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan , “Aku tahu dan memang tahu ini”.
- RAYAKAN. Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.
KAPAN KITA MENGGUNAKAN
Revolusi cara belajar mengubah segalannya, ketika citarasa yang menyenangkan menjadi atmosfir pembelajaran bermakna. Maka ketika menerapkaj harus tetap memperhatikan kaidah-kaidah tertentu. “Warung Jamu”, adalah sebuah kaidah yang merupakan kepanjangan dari WAktu-RUaNG-JumlAh dan MUtu. Makna Warung Jamu adalah dimennsi ukur yang harus diperhatikan, ketika seorang Guru melakukan pembelajaran.
- Kapan [waktu], kita melalukan pembelajaran
- Pada rentangan bagaimana atau pada kondisi yang bagaimana [ruang], kita melakukan pembelajaran
- Kuantitas audience [jumlah]
- Kualitas yang diharapkan [mutu]
Sejalan dengan kaidah tersebut, kita diingatkan pula dengan kaidah “ABCD” –[Audience, Behavior, Condition and Degree]. Kaidah inilah, bagaikan bintang pengarah para guru untuk memilih metode pembelajaran yang EER[ Efektif, Efisien dan Rasional].
Saat ini terjadi revolusi pembelajaran, yang mengenarasi banyak metode pembelajaran, namun kita dicermati adalah berubahnya paradigma pembelajaran. Dari Guru sebagai pusat pembelajaran, atau semuanya sangat ditentutkan dari atas “driver company”, menuju pembelajaran yang memberikan ruang gerak secara utuh dan menyeluruh pada siswanya “driver customer”. Paradigma inilah yang menuntut setiap Guru untuk cermat dalam memilih metode pembelajaran. Tentunya metode pembelajaran Bermakna
- Barbara K. Given [2007]. Brain Based Teaching [Merancang Kegiatan Belajar Mengajar yang Melibatkan Otak Emotional, Sosial, Kognitif, Kinetetis, dan Reflektif]. Penerbit Kaifa Bandung.
- Ijoni [2007]. Cooperative Learning: Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Penerbit Alfabeta Bandung.
- Muchlas Samani [2007]. Pendidikan Bermakna: integrasi Life Skill-KBK-CTL-MBS, Penerbit SIC Surabaya
- Suprano,P.[1997]. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, Penerbit Kanisius Yogyakarta.
- Yosi Novian dan Faqih Syarif [2008]. Quantum Quotient, Learning Behavior, Ability To Respones & Training, PT Jaya Pustaka Media Utama, Surabaya
Senin, 20 April 2009
Proses Pembelajaran
Oleh Yusuf Yudi Prayudi
Proses pembelajaran adalah sebuah upaya bersama antara dosen dan mahasiswa untuk berbagi dan mengolah informasi dengan tujuan agar pengetahuan yang terbentuk ter-“internalisasi” dalam diri peserta pembelajaran dan menjadi landasan belajar secara mandiri dan berkelanjutan. Maka kriteria keberhasilan sebuah proses pembelajaran adalah munculnya kemampuan belajar berkelanjutan secara mandiri.
Sebuah proses pembelajaran yang baik, paling tidak harus melibatkan 3 aspek, yaitu : aspek psikomotorik, aspek kognitif dan aspek afektif.
Aspek Psikomotorik dapat difasilitasi lewat adanya praktikum-praktikum dengan tujuan terbentuknya ketrampilan eksperimental. Aspek kognitif difasilitas lewatberbagai aktifitas penalaran dengan tujuan adalah terbentuknya penguasaan intelektual. Sedangkan aspek afektif dilakukan lewat aktifitas pengenalan dan kepekaan lingkungan dengan tujuan terbentuknya kematangan emosional. Ketiga aspek tersebut bila dapat dijalankan dengan baik akan membentuk kemampuan berfikir kritis dan munculnya kreatifitas. Dua kemampuan inilah yang mendasari skill problem solving yang diharapkan wujud pada diri mahasiswa.
Untuk menghasilkan sebuah proses pembelajaran yang baik, maka paling tidak harus terdapat 4 tahapan, yaitu :
- Tahap berbagi dan mengolah informasi, kegiatan dikelas, laboratorium, perpustakaan adalah termasuk dalam aktifitas untuk berbagi dan mengolah informasi.
- Tahap internalisasi, aktifitas dalam bentuk PR, tugas, paper, diskusi, tutorial, adalah bagian dari tahap internalisasi.
- Mekanisme balikan, kuis, ulangan/ujian serta komentar dan survey adalah bagian dari proses balikan.
- Evaluasi, aktifitas assesment yang berdasar pada test ataupun tanpa test termasuk assesment diri adalah bagian dari proses evaluasi. Evaluasi dapat dilakukan secara peer review ataupun dengan survey terbatas.
Seharusnya implementasi proses pembelajaran di perguruan tinggi senantiasa dievaluasi untuk memenuhi aspek-aspek diatas.
Senin, 16 Maret 2009
Menengok Sekolah Berstandar Internasional di Sragen
Kabupaten Sragen menginjak usianya yang ke-262 tahun tepat tanggal 27 Mei 2008. Dengan usia demikian matang, kabupaten yang memosisikan diri sebagai smart regency ini rajin "menjual" potensi daerahnya. Salah satunya adalah sekolah berstandar internasional yang dirintis sejak dua tahun lalu, yakni di Kecamatan Gemolong dan Kecamatan Karangmalang.
Hingga kini, sudah ada dua angkatan yang bersekolah di jenjang taman kanak-kanak dan sekolah dasar (SD) di dua sekolah berstandar internasional (SBI) itu. Rencananya, mulai tahun ajaran ini di kompleks SBI Gemolong akan dibuka SBI di jenjang sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang bekerja sama dengan Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association (Pasiad). Pasiad bertanggung jawab terhadap pendidikan, bimbingan, kurikulum, dan sistem manajemen sekolah.
"Kami ingin agar generasi muda Sragen mampu bersaing. Bahasa Inggris menjadi kunci pintu gerbang persaingan di era global," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen Gatot Supadi, Selasa (27/5).
SBI menekankan aspek pembelajaran melalui pengalaman dengan tujuan memberi modal kecakapan hidup (life skill) agar siswa mampu kreatif menghadapi hidupnya di masa depan. Misalnya, siswa diajak pergi melihat pembuatan tahu, menanam pohon, dan melihat pembuatan KTP di kecamatan.
SBI di Sragen memakai Kurikulum Nasional Plus X. "Maksudnya, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006, tetapi ditambah dengan pengembangan sesuai standar internasional," ucap Koordinator TK/SD SBI Kroyo, Karangmalang, K Mudo Triasmoro bersama Kepala SBI Kroyo Marjono.
Suasana SBI Kroyo yang berstatus sekolah negeri tidak jauh berbeda dengan sekolah negeri non-SBI. Hanya saja, siswa SBI boleh dibilang lebih "beruntung" karena menyediakan fasilitas lebih lengkap, antara lain ruang kelas multimedia, perpustakaan dengan koleksi buku berbahasa Inggris, dan ruang musik. (SRI REJEKI)
Peranti Lunak Lokal Tumbuh Berkembang
BANDUNG, KAMIS — Industri peranti lunak lokal di Indonesia, khususnya Kota Bandung, terus tumbuh berkembang. Ini ditandai dengan makin bertambahnya perusahaan pembuat software (independent software vendor/ISV). Konten multimedia kreatif dan e-learning adalah ciri khas keunggulan software-software lokal.
Mengutip data dari International Data Corporation (IDC), pakar rekayasa software Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Romi Satria Wahono, Kamis (8/1), mengatakan, ISV di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 400 buah. Tahun 2006, jumlahnya 250. Sebanyak 50 di antaranya berasal dari Bandung. Jumlah tenaga ahli yang terlibat 72.000 orang.
Pendiri situs pembelajaran www.ilmukomputer.com ini mengatakan, keunggulan software yang dihasilkan ISV lokal ini terutama menyangkut konten-konten multimedia dan animasi yang biasa digunakan sebagai alat bantu pembelajaran ataupun e-learning. Ia mencontohkan software garapan Pesona Edukasi yang berhasil menembus pasar Amerika Serikat dan belahan dunia lainnya.
Ia memandang, kreator-kreator dan arsitek software lokal di Indonesia tidak bisa lagi sekadar mengandalkan produk custom atau berdasarkan proyek-proyek pesanan, baik dari swasta maupun pemerintah. Di lain pihak, peluang software generik, yaitu produk yang bersifat massal, rentan kalah bersaing dengan produsen-produsen ternama dari luar negeri yang lebih dahulu ada.
Tren ke depan yang bisa dikembangkan adalah jenis software at service (peranti lunak berbasis pelayanan berjaringan). Yang dijual itu bukan lagi sekadar produknya, tetapi lebih diarahkan ke pelayanannya. Misalnya, sistem pajak dan akuntansi, ujarnya. Salah satu produsen lokal yang telah mengembangkan software jenis ini adalah Andal. Saat ini, masih sedikit ISV yang berani bermain di sektor ini.
SAS (software at service) inilah yang tengah kami bidik. Ke depannya, software-software jenis inilah yang prospektif. Model yang proprietary (produk berbayar) akan ketinggalan. Sebab, teknologi ke depan itu berbasis kolaboratif, ujar Ardian Febri (25), Managing Director Saklik. Perusahaan bisnis online yang bertempat di Bandung ini kini tengah mengembangkan Medresa, yaitu sistem konten manajemen e-learning. Produk ini adalah satu dari lima pemenang lomba Start Up Bisnis Industri Kreatif Inkubator Industri dan Bisnis (IIB) Institut Teknologi Bandung. Namun, ucapnya, produk berbasis SAS ini sangat membutuhkan dukungan infrastruktur berupa jaringan internet yang sangat baik.
Serap tenaga kerja
Pengamat teknologi informasi dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB Budi Rahardjo saat dihubungi terpisah mengatakan, jumlah produsen software lokal maupun tenaga ahlinya masih terbilang minim. Idealnya, pada 2010, jumlahnya (produsen) itu sudah ribuan. Dalam kerangka BHTV (Bandung High Tech Valley), idealnya di 2010 itu ekspor software di Indonesia mencapai Rp 8 miliar, tuturnya.
Menurut penelitian IDC, dari estimasi tumbuhnya 1.100 perusahaan baru di tahun mendatan g, sektor kreatif ini bisa menyerap 81.000 tenaga kerja baru. Industri teknologi informasi ini pun akan menyumbangkan USD 1,1 miliar. Syaratnya, jika dikelola serius. Namun, kenyataannya, beberapa software house (ISV) di Bandung masih hidup - mati. Ada yang mati, muncul lagi yang lain, ucapnya.
Persoalan daya saing dan modal adalah kendala utamanya. Belum lagi, persoalan krisis finansial global. Dan, kecenderungan masih tingginya angka pembajakan software saat ini. License Compliance Manager PT Microsof t Indonesia Anti S Suryaman mengungkapkan, tingkat pembajakan di Indonesia saat ini mencapai 84 persen. Indonesia menempati posisi ke-12 besar pembajakan software di dunia.
Di sisi lain, Indonesia pun harus berlapang dada menyadari kondisi banyaknya tenaga ahli yang dibajak luar negeri. Ketua Kelompok Keahlian Rekayasa Software dan Data ITB Hira Laksmiwati Zoro mengatakan, lulusan berperstasi dari Teknik Informatika ITB banyak yang memilih bekerja di luar negeri. Produsen software di dalam negeri belum memberi peluang cukup menjanjikan untuk mereka.
Menyikapi Pesona Sekolah Unggulan
Oleh: Moh Muhibbin
Fenomena sekolah unggulan mulai bertebaran di tengah masyarakat mulai ibu kota kabupaten/kota hingga kecamatan. Sekolah-sekolah ini bertarif mahal dan dikampanyekan pengelolanya akan menjanjikan serta menjamin masa depan anak didik.
Salah satu selebaran yang diedarkan sekolah unggulan ini berbunyi "bergabunglah dengan sekolah yang tidak jual mimpi", "masukkan anak anda ke sekolah ini, jika ingin menjadi profesional", atau "saatnya orangtua tidak meninggalkan kader lemah di masa depan". Membaca selebaran-selebaran semacam itu, di satu sisi dapat ditangkap isyarat bahwa pengelola pendidikan rupanya semakin rajin meramu model sekolah yang dikalkulasi akan mampu merangsang dan menyedot konsumen sebanyak-banyaknya, khususnya konsumen pendidikan yang berasal dari kalangan orangtua atau keluarga berduit.
Berapa pun banyaknya uang yang dikeluarkan tidak akan menjadi perhitungan utama karena yang diutamakan adalah kepuasan. Pernyataan tersebut menunjukkan sekolah berlabel unggulan yang dijual sebagian pengelola pendidikan sebenarnya masih layak dipertanyakan kesejatian keunggulannya. Bukan tidak mungkin, apa yang distigmakan dalam kosakata "unggulan" terbatas pada strategi pemenuhan kebutuhan pasar elite yang menuntut pemuasan dari ambisi status sosialnya.
Tampaknya gejala sekolah unggulan yang dijual ke pasar orangtua atau keluarga berduit cenderung mengikuti dan mendikte konsumen yang berburu status sosial. Sekolah dibangun bukan mengikuti dasar-dasar moral-filosofi yang dibutuhkan anak didik untuk membentuk kepribadian sehingga menjadi pribadi unggul, namun lebih dominan mengikuti irama kepentingan pembenaran ambisi orangtuanya.
Ada kisah, misalnya, salah satu sekolah di Jatim yang telah mengemas dirinya menjadi sekolah unggulan dengan tema jual ke pasar sebagai sekolah unggulan. Dalam penawaran kepada orangtua murid, sistem pembelajaran di sekolah model ini dilaksanakan dengan sistem anak didik diwajibkan mengikuti rule of game yang digariskan sekolah hingga sore (pukul 17.00). Sayangnya, dalam beberapa hari, sekolah ini tidak menjalankan aturan main yang sudah dijual ke pasar.
Akibat wanprestasi ini, para orangtua murid memprotesnya. Alasannya, ini merugikan anak-anak dan mereka. Pasalnya, mereka menyekolahkan anak di sekolah model ini dengan pertimbangan adaptasi jam kerjanya sama dengan berakhirnya jam sekolah anak. Karena anak sering dipulangkan lebih awal, pihak sekolah telah merugikan jam kerjanya. Ini berarti, secara ekonomi, sekolah telah menghadirkan masalah dan bukan menyelesaikan masalah. Kasus tersebut menunjukkan ukuran unggulan yang dipakai sekolah maupun orangtua sebenarnya sudah tidak sama.
Dari pihak keluarga atau orangtua murid, sekolah unggulan diasumsikan sebagai lembaga pendidikan yang mampu menyelaraskan kepentingan anak didik dan kesibukan mereka.
Dalam kasus tersebut, di satu sisi model sekolah demikian barangkali akan menjadi obyek jual ke pasar yang mampu menyedot konsumen. Namun di sisi lain, pengelola pendidikan dan konsumen perlu diluruskan bahwa kesejatian pendidikan bukan pragmatisme, instanisme, otoritarianisme, atau menciptakan atmosfer edukatif yang "memenjara" anak, melainkan atmosfer yang menumbuhkan pencerdasan dan penceraham moral intelektual kepada anak didik.
Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran. Ini agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, serta negara.
Dalam dimensi yuridis tersebut ada kosakata "mengembangkan" potensi yang menggabungkan kognisi, afeksi, dan psikomotorik sehingga target pencapaian dalam setiap proses pembelajaran menekankan pada akumulasi nilai. Jika akumulasi nilai yang menjadi tolok ukur, standar keunggulan terletak pada kemampuan setiap penanggung jawab penyelenggaraan pendidikan untuk mengantarkan anak didik menjadi manusia unggulan.
Makhluk dwidimensi
Ahli tafsir kenamaan, M Quraish Shihab (1992), juga menunjukkan substansi model pendidikan yang menekankan keunggulan manusia. Manusia yang dibina adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur material (jasmani) dan imaterial (akal serta jiwa). Pembinaan akal menghasilkan ilmu, pembinaan jiwa menghasilkan kesucian dan etika, serta pembinaan jasmani menghasilkan keterampilan. Dengan penggabungan unsur-unsur tersebut, terciptalah makhluk dwidimensi dalam satu keseimbangan dunia dan akhirat serta ilmu dan iman. Itulah sebabnya dalam pendidikan Islam dikenal istilah adab al-din dan adab al-dunya.
Dengan orientasi pendidikan itu, seharusnya atau idealnya model sekolah atau pendidikan unggulan bukan semata terletak pada keunggulan fasilitas, tetapi juga sistem demokratisasi edukasinya, yang dalam politik implementasinya mampu menumbuhkembangkan pribadi anak didik menjadi manusia istimewa secara kognisi, afeksi, dan psikomotorik.
Sekolah unggulan tidak terletak pada pesona kemampuan manajemen sekolah dalam mendulang keuntungan ekonomi berlaksa dari orangtua atau kelompok sosial elitisme, tetapi dari kemampuan menjembatani anak didik menjadi pribadi paripurna meski anak didik ini dari golongan akar rumput.
Ini artinya prinsip penyelenggaraan pendidikan (proses belajar- mengajar) yang bernapaskan egalitarian tidak bisa diabaikan, kecuali pengelolanya dari awal sudah menerapkan sistem pembenaran keunggulan dalam disparitas dan diskriminasi yang bertumpu pada kapitalisme pendidikan. "Apa yang distigmakan dalam kosakata "unggulan" terbatas pada strategi pemenuhan kebutuhan pasar elite yang menuntut pemuasan dari ambisi status sosialnya".
Moh Muhibbin Peneliti pada Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Budaya, Ekonomi, dan Politik (LP2BEP) Gresik
MAKALAH UPAYA GURU DALAM MELIBATKAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
MAKALAH UPAYA GURU DALAM MELIBATKAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
I.PENDAHULUANSebagian besar siswa masih menganggap bahwa pelajaran matematika termasuk mata pelajarn yang kurang menarik dan kurang menyenangkan. Bahkan siswa-siswa di sekolah-sekolah yang berada di pelosok atau pinggiran masih banyak yang menganggap bahwa matematika itu adalah pelajaran yang sulit, memusingkan dan membosankan. Anggapan-anggapan yang “tidak simpatik” terhadap pelajaran matematika tersebut berdampak buruk terhadap pencapaian prestasi para siswa.
Selama asusmsi siswa terhadap pelajaran matematika masih negatif, sangat sulit bagi seorang guru untuk menuntaskan para siswanya dalam pembelajaran matematika sesuai Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) yang ditetapkan. Sebab apabila para siswa sudah mulai tidak menyukai pelajaran matematika, akan berakibat siswa menjadi malas berfikir yang diawali dengan malas berfikir dalam pelajaran matematika dan selanjutnya akan berdampak pada mata pelajaran lain yang memerlukan penalaran. Karena untuk semua jenjang pendidikan, materi pembelajaran matematika salah satunya adalah keterampilan penalaran, yang meliputi :
Memahami pengertian
Berfikir logis
Memahami contoh negatif
Berfikir deduksi
Berfikir induksi
Berfikir sistmatis dan konsisten
Menarik kesimpulan
Menentukan metode dan membuat alasan
Menentukan setrategi ( Ebbutt dan Straker, 195 )
Adanya para siswa menjadi tidak menyukai matematika ini salah satu penyebabnya adalah model pembelajaran yang diterapkan oleh sebagian guru matematika masih menerapkan model pembelajaran konvensional. Yaitu menggunakan metode ceramah, menulis, dan mencatat yang monoton, searah, dan kurang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajran. Komitmen terhadap pembelajarn yang melibatkan siswa secara aktif sifatnya hanya jangka pendek. Akibat bagi siswa tidak banyak yang diingat dan sangat sedikit yang diterapkan.
Belajar matematika memerlukan ketrlibatan mental dan kerja siwa. Ceramah dan pemeragaan semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang langgeng. Guru dapat menceritakan berbagai materi dengan cepat namun siswa akan melupakan apa yang diceritakan oleh guru dengan lebih cepat.
Memang kelihatannya sekilas siswa tampak memahami apa yang disampaikan oleh guru, namun beberapa saat kemudian segala sesuatu yang dijelaskan oleh guru akan segera terlupakan. Hal ini terjadi karena siswa belum terlibat secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran.
Agar siswa dapat aktif baik secara fisik maupun mental, siswa harus menggunakan otak, mengkaji gagasan, memecahkan masalah dan menerapkan ( Melvin. L. Silberman, 2006 ).
Jadi guru harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memberikan siswa kesempatan untuk bergerak bebas ( moving about ) dan penuh gairah. Guru juga harus selalu memberikan motivasi agar siswa belajar dengan penuh semangat sehingga siswa mau berfikir keras ( thingking aloud ).
Di dalam belajar matematika siswa perlu mengerjakan, menggambarkan sesuatu dengan caranya sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktikkan keterampilan dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan. Siswa bisa belajar dengan sangat baik dari pengalaman konkrit.
Sebagian guru matematika tidak melibatkan siswa dalam pembelajaran dengan alasan tertekan oleh terbatasnya waktu. Ada keyakinan pembelajaran dengan melibatkan siswa secara aktif akan menyita terlalu banyak waktu. Sebetulnya para guru matematika tidak menerapkan pembelajran yang melibatkan siswa secara aktif karena tidak adanya saran konkrit yang cukup memadai tentang cara menerapkannya di dalam kelas.
Mengingat tidak mudahnya penyelenggaraan pembelajaran matematika, maka guru matematika dituntut untuk terus mengembangkan usaha-usaha pembelajaran matematika yang melibatkan siswa, agar tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan dapat tercapai.
II.PEMBAHASAN
1. Inovasi Pendidikan
Terdapat beberapa konsep inovasi pendidikan yang menarik dan layak untuk dikaji dan dikembangkan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Terdapat panca inovasi pendidikan yaitu :
1.Pendidikan Berbasis Masyarakat ( PBM )
2.Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah ( MPMBS )
3.Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ) yang sekarang dilanjutkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP )
4.Pendidikan Kecakapan Hidup ( PKH )
5.Pembelajaran Kontekstual ( PK ) ( Abdullah Syam, 2006)
Penekanannya terletak pada pentingnya kebutuhan siswa dan cara pemecahan masalah oleh siswa dengan menggunakan potensi yang ada di lingkungannya. Konsep kurikulum berbasis kompetensi mengembangkan paradigma learning for life and school work. Konsep tersebut dapat dijadikan dasar kegiatan pembelajaran sehingga terjadi pertautan/relevansi antara pembelajaran dengan kebutuhan nayata siswa.
Dalam KBK terdapat kompetensi dasar/kemampuan dasar yang harus dimiliki siswa pada tingkatan tertentu. Kemampuan dasar melukiskan apa yang harus diketahui oleh siswa dan dapat dilakukannya pada kelas atau tingkatan tertentu.
Kemampuan dasar adalah kemampuan pokok yang harus dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti pendidikan pada kelas tertentu ( Sadiyo, 2001 )
KTSP menghendaki siswa tidak hanya memiliki aspek pengetahuan, tetapi juga kemampuan mengaplikasikan kompetensi/kemampuan itu dalam bentuk keterampilan, dan mengubah sikap kea rah yang positif.
Deskripsi kemampuan dasar merupakan satu kalimat yang mengandung skill dan materi dari masing-masing bahan ajar, meliputi : thingking, cognitive skill, social/emotional skill, motoric skill, dan moral skill ( Sadiyo, 2001 ). Kemampuan dasar pada masing-masing kelas harus mampu membedakannya denga kelas lain. Perbedaan terebut terjadi karena perbedaan skill ataupun perbedaan isinya.
Sistem pembelajaran berdasarkan kompetensi harus menekankan pembelajaran kecakapan dasar ( basic skill atau life skill ). Secara umu disebut pembelajaran 3C, yaitu Consience ( hati nurani ), Compassion ( kepedulian social ) dan Competence
( kecakapan ).
2. Syarat-syarat Guru Profesional
Guru yang professional perlu malakukan pembelajaran di kelas secara efektif. Menurut Gary A. Davis dan Margaret A. Thomas, ada empat cirri guru yang efektif, antara lain yaitu :
1.Memiliki kemampuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas.
Kemampuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas antara lain :
a.Memiliki kemampuan interpersonal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada siswa, dan ketulusan.
b.Memiliki hubungan baik dengan siswa.
c.Mampu menerima, mengakui, dan memeperhatikan siswa secara tulus.
d.Menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar.
e.Mampu menciptakan atmosfir untuk tumbuhnya kerja sama dan kohesivitas dalam dan antar kelompok siswa.
f. Mampu melibatkan siswa dalam mengorganisasikan dan merencanakan
g.kegiatan pembelajaran.
h.Mampu mendengarkan siswa dan menghargai hak siswa untuk berbicara dalam diskusi.
i.Mampu meminimalkan friksi-friksi di kelas.
2.Memiliki kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran.
Kemampuan yang terkait dengan strategi pembelajaran antara lain :
a.Memiliki kemampuan menangani siswa yang tidak memiliki perhatian.
b.Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berfikir yang berbeda untuk semua siswa.
3.Memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik ( feedback ) dan penguatan ( reinforcement ).
Kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan meliputi :
a.Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa.
b.Mampu memberikan umpan balik yang bersifat membantu siswa yang lamban belajar.
c.Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang belum benar.
d.Mampu memberikan bimbingan kepada siswa yang memerlukan.
4.Memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri.
Kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri meliputi :
a.Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif.
b.Mampu memperluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode pembelajaran.
c.Mampu memanfaatkan perencanaan guru secara kelompok untuk menciptakan dan mengembangkan metode dan model pembelajaran yang relevan.
Sedangkan syarat guru professional yang harus dipenuhi sesuai undang-undang guru dan dosen no. 14 tahun 2005 antara lain :
1.Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah ( pasal 1.1 )
2.Profesi guru dilaksanakan berdasarkan prinsip : memiliki bakat, memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas, memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan ( pasal 7 : 1 )
3.Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudakn tujuan
pendidikan nasional ( pasal 8 )
4.Beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan ( pasal 35;1 )
3. Pembelajaran Matematika
Lebih dari 2400 tahun silam, Konfusius menyatakan :
“ Yang saya dengar saya lupa “
“ Yang saya lihat saya ingat “
“ Yang saya kerjakan saya pahami “
Pernyataan Konfusius tersebut mengisaratkan kepada guru matematika agar dalam pembelajaran matematika tidak sekedar menceritakan dan menerangkan. Karena siswa tidak akan bisa memahami dengan baik materi-materi yang diceritakan dan diterangkan oleh guru. Untuk bisa belajar matematika dengan baik, siswa perlu mendengarkan, melihat, mengajukan pertanyaan, membahas dengan siswa lain, mengerjakan dengan caranya sendiri, menunjukkan contoh, mencoba, mempraktikkan, dan mengerjakan tugas yang menuntut pengetahuan. Jadi agar siswa dapat memahami matematika dengan baik sesuai yang diharapkan oleh guru, seorang guru matematika harus melibatkan siswa secara aktif baik fisik maupun mental agar siswa mengerjakan dan mengalaminya sendiri.
Sebab matematika pada hakekatnya adalah kreatifitas yang memerlukan emajinasi, intuisi, dan penemuan. Implikasi dari hakekat matematika ini, gruru tidak akan bisa melaksankan pembelajaran secara efektif hanya denga improffisasi ( tanpa perencanaan dan persiapan ). Guru matematika dituntut untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan melaksanakannya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran harus disusun agar memungkinkan siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran.
Menurut John Holt ( 1967 ), proses belajar akan meningkat jika siswa diminta untuk :
1.Mengemukakan kembali infoemasi dengan kata-kata mereka sendiri.
2.Memberikan contohnya.
3.Mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi.
4.Melihat kaitan antara informasi itu dengan fakta atau gagasan lain.
5.Menggunakan dengan beragam cara.
6.Memprediksikan sejumlah konsekuensinya.
7.Menyebutkan lawan atau kebalikannya.
Apabila dalam pembelajaran matematika para siswa hanya pasif, maka otak siswa tidak akan menyimpan apa yang telah disajikan kepadanya. Pembelajaran matematika yang hanya didominasi oleh guru, sedangkan siswa tidak terlibat secara maksimal, maka siswa mengikuti pelajaran tanpa rasa ingin tahu, tanpa bertanya, tanpa minat terhadap hasilnya kecuali nilai.
Sebaliknya, apabila pembelajaran matematika dikemas sedemikian rupa sehingga siswa terlibat secara aktif, maka siswa akan mengupayakan sesuatu tidak hanya berharap dari gurunya semata. Diantaranya, siwa akan menginginkan jawaban atas pertanyaan, membutuhkan informasi untuk memecahkan masalah-masalah, dan mencari cara untuk mengerjakan tugas.
Pelajaran matematika tidak selalu abstrak, tetapi bisa diajarkan dengan media yang konkrit, melaui buku-buku latihan dan mempraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing cara dalam menyajikan konsep akan menentukan pemahaman siswa.
Pembelajaran siswa aktif sangat sesuai dengan siswa masa kini ( Schrouder ). Siswa masa kini cenderung untuk berkelompok dalam melakukan berbagai aktifitas. Sehingga siswa masa kini sebagian besar bisa beradaptasi dengan baik terhadap kegiatan kelompok dan belajar bersama.
Agar pembelajaran matematika berlangsung efektif, dan siswa terlibat secara aktif, kegiatan yang sebaiknya dialkukan oleh siswa antara lain :
1.Diskusi dan proyek kelompok kecil.
2.Presentasi dan debat dalam kelas.
3.Pengalaman lapangan.
4.Simulasi.
Ada baiknya guru memberikan pelajaran singkat setelah berlangsungnya pembelajaran matematika yang melibatkan siswa secara aktif guna menghubungkan antara apa yang dialami siswa dengan konsep-konsep yang hendak disampaikan oleh guru.
4. Karakteristik Siswa
Ebbutt dan Straker ( 1995 : 60-65 ), memberikan pandangannya bahwa agar potensi siswa dapat berkembang dan mempelajari secara optimal, asumsi tentang karakteristik siswa dan implikasi terhadap pembelajaran matematika adalah sebagai berikut :
a.Siswa akan mempelajari matematika jika mereka mempunyai motivasi. Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran matematika adalah, guru perlu :
1.Menyediakan kegiatan yang menyenangkan.
2.Memperhatikan keinginan siswa.
3.Membangun pengertian melalui apa yang diketahui oleh siswa.
4.Menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar.
5.Memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
6.Memberikan kegiatan yang menantang.
7.memberikan kegiatn yang memberikan harapan keberhasilan.
8.Menghargai setiap pencapaian siswa.
b.Siswa mempelajari matematika dengan caranya sendiri.
Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran matematika adalah guru perlu :
1.Mengetahui kelebihan dan kekurangan para siswanya.
2.Merencanakan kegiatan yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.
3.Membangun pengetahuan dan keterampilan siswa.
4.Membuat catatan kemajuan siswa ( assessment ).
c.Siswa mempelajari matematika baik secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan temannya. Implikasi dari pandangan ini, gru perlu :
1.Memberikan kesempatan untuk belajar kelompok untuk melatih kerja sama.
2.Memberikan kesempatan belajar secara klasikal untuk memberi kesempatan saling bertukar gagasan.
3.Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan secara mandiri.
4.Melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan tentang kegiatan yang akan dilakukan.
5.Menjelaskan bagaiman cara mempelajari matematika.
d.Siswa memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda dalam mempelajari matematika. Implikasi dari pandangan ini adalah, guru perlu :
1.Menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga.
2.Memberi kesempatan belajar matematika di berbagai tempat dan keadaan.
3.Memberikan kesempatan menggunakan matematika untuk berbagai keperluan.
4.Mengembangkan sikap menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan problematika baik di sekolah maupun di rumah.
5.Menghargai sumbangan tradisi, budaya dan seni dalam pengembangan matematika.
6.Membantu siswa menilai sendiri kegiatan matematikanya.
5.Pembelajaran Matematika Efektif
Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas dan efektifitas pembelajaran matematika. Oleh karena itu, guru harus membuat perencanaan dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi para siswa.
Perubahan paradigma dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, strategi pembelajaran, sikap, dan karakteristik guru mutlak diperlukan.
Dalam menciptakan kondisi pembelajaran matematika yang efektif setidaknya ada lima hal yang perlu dilakukan oleh guru, diantaranya yaitu :
1.Melibatkan siswa secara aktif.
2.Menarik minat dan perhatian siswa.
3.Membangkitkan motivasi siswa.
4.Memahami perbedaan individu.
5.Menggunakan alat peraga yang relevan.
Sebagian besar guru mengetahui bahwa keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran sangat diperlukan agar belajar menjadi efektif dan dapat mencapai hasil yang diinginkan. Untuk itu hendaknya guru berusaha menciptakan kondisi pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Beberapa cara yang dapat diterapkan oleh para guru matematika dalam pemebelajaran matematika, agar para siswa dapat terlibat secara aktif selama pembelajaran matematika anatara lain sebagai berikut :
1.Gunakan waktu yang lebih banyak untuk kegiatan pembelajaran.
2.Tingkatkan partisipasi siswa secara aktif dalam pembelajaran dengan menuntut respons yang aktif dari siswa.
3.Gunakan berbagai teknik mengajar, motivasi serta penguatan
( reinforcement ).
4.Masa transisi jam pelajaran hendaknyadialkukan secara cepat dan luwes.
5.Berikan pengajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan mengajar yang akan dicapai.
6.Usahakan agar pembelajaran lebih menarik minat siswa.
7.Kenalilah dan bantulah anak-anak yang kurang terlibat.
8.Ingatkan pengetahuan prasarat ( apersepsi ) untuk mempelajari topic yang baru.
III.Kesimpulan dan Saran.
1. Kesimpulan
Pembelajaran matematika akan efektif apabila guru selalu berupaya melibatkan siswa secara aktif sejak dimualinya pembelajaran sampai berakhirnya pembelajaran. Upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh guru dalam melibatkan siswa dalam pembelajaran matemtika antara lain sebagai berikut :
1.Membuat dan melaksanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) yang memungkinkan siswa terlibat secara aktif sejak awal hingga akhir kegiatan pembelajaran.
2.Menggunakan alat peraga, alat bantu, dan media untuk mempermudah pemahaman konsep dan menjadikan pembelajaran lebih menarik.
3.Menggunakan berbagai teknik dalam mengajar.
4.Menggunakan metode yang bervariasi agar tidak monoton dan untuk mengurangi atau menghilangkan kejenuhan siswa.
5.Mengajar dengan penuh antusias agar siswa termotivasi.
2. Saran
Sebagai guru matematika bertanggung jawab atas kesuksesan pelaksanaan pembelajaran matematika. Oleh karena itu disarankan kepada rekan-rekan guru matematika agar :
1.Terus berusaha meningkatkan profesionalisme.
2.Selalu berusaha melibatkan siswa dalam pembelajaran matematika.
3.Membelajarkan matematika secara menarik.
4.Selalu berusaha menggunakan alat peraga atau alat bantu dalam pembelajaran matematika untuk mempermudah pemahaman siswa.
SDM DAN BALANCED SCORECARD
Balanced scorecard (BSC) dicetuskan oleh Robert S. Kaplan dan David P. Norton di Harvard Business Review tahun 1992 berjudul “Balanced Scorecard-Measures that Drive Performance”. BSC merupakan sistem pengukuran kinerja perusahaan dilihat dari empat perspektif; finansial, pelanggan, proses bisnis internal, dan pembelajaran dan pertumbuhan. Indikator kinerja perspektif finansial atau keuangan adalah ukuran tertinggi kinerja keuangan yang dapat diberikan pada pemegang saham. Kemudian dalam hal perspektif pelanggan adalah berapa tingkat kepuasan dan loyalitas pelanggan dan besaran pangsa pasar. Sedang pada perspektif bisnis internal ukuran kinerja utamanya adalah mutu dan percepatan waktu proses bisnis internal dalam mendorong bisnis perusahaan. Sementara itu pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan adalah kemampuan perusahaan memelihara dan mengembangkan kemampuannya untuk berubah dan memperbaiki proses. Atau keberhasilan karyawan dan infra struktur dalam mempengaruhi kinerja bisnis. Ditinjau dari BSC sebagai bagian dari manajemen strategis maka lantas bagaimana hubungan semua perspektif tersebut dengan sumberdaya manusia (SDM) perusahaan?
Sejak perspektif BSC diterapkan yakni pembelajaran dan pertumbuhan, SDM memegang peranan penting dalam mencapai keberhasilan strategi perusahaan. Gambarannya adalah peningkatan mutu SDM dalam perspektif pembelajaran dan pertumbuhan mempengaruhi proses bisnis internal dalam bentuk peningkatan mutu dan siklus waktu proses. Peningkatan mutu proses bisnis internal akan mempengaruhi perspektif pelanggan dalam bentuk peningkatan kepuasan pelanggan. Pada gilirannya akan menciptakan loyalitas pelanggan yang tinggi sekaligus pangsa pasar semakin besar. Akibat dari keberhasilan perspektif pelanggan maka besaran penjualan semakin bertambah dan kemampulabaan juga demikian. Ini berarti bagian dari deviden yang diterima pemegang saham juga semakin meningkat.
Pemahaman tentang manajemen strategis menunjukkan bahwa empat perspektif pengukuran kinerja perusahaan merupakan hal yang seimbang dan terpadu. Sebaliknya kalau tidak seperti itu maka perusahaan cenderung potensial akan mengalami kegagalan dalam mencapai tujuannya. Pada prakteknya, David P. Norton (1996) dalam artikelnya The Balanced Scorecard:Translating Strategy Into Action, mengatakan bahwa sembilan dari 10 perusahaan gagal melaksanakan strateginya. Faktor penyebabnya terdiri dari hambatan visi, hambatan operasi, hambatan SDM, dan hambatan pembelajaran. Dari segi visi, hanya lima persen saja yang memahami strategi perusahaan. Kemudian sebanyak 60 persen perusahaan, penyusunan anggarannya tidak berhubungan dengan strategi. Sedang 85 persen dari tim eksekutif menghabiskan waktu kurang dari satu jam untuk membahas strategi setiap bulannya. Sementara itu hanya 25 persen manajer saja yang memiliki perhatian dengan strategi.
Jadi tergambarkan bahwa suatu keberhasilan perusahaan ditinjau dari kinerja empat perspektif tak mungkin tercapai tanpa campur tangan SDM. Setiap perspektif membutuhkan SDM yang bermutu. Lebih khusus, ditinjau dari perspektif pembelajaran dan pertumbuhan, peran SDM lebih nyata lagi. Unsur kunci adalah mutu SDM (ketrampilan, sikap, moral, motivasi, dan kepuasan karyawan). Semakin baik manajer memberdayakan karyawannya semakin baik mutu SDM yang dihasilkan. Ukuran keberhasilan manajer ditunjukkan dengan retensi atau loyalitas karyawan dalam meningkatkan produktifitas kerjanya. Tentu saja ini diduga akan mempengaruhi kepuasan palanggan dan meningkatkan kepekaan karyawan terhadap preferensi pelanggan. Ukuran berikutnya adalah pendapatan perkaryawan dan laba perkaryawan semakin meningkat. Lantas patut diduga pula bahwa retensi karyawan akan dicerminkan oleh rendahnya jumlah karyawan yang keluar dari perusahaan. Atau dengan kata lain reit perputaran karyawan tergolong rendah.
Agar manajemen strategis bisa tercapai sesuai dengan tujuan maka ditinjau dari peran SDM, setiap karyawan (manajemen dan non-manajemen) harus memahami strategi perusahaan. Hal ini baru akan tercapai kalau tiap manajer mampu memberdayakan para karyawannya dalam meningkatkan mutu SDM dalam hal daya tanggap, kepekaan bisnis, ketrampilan teknis, ketrampilan manajerial, dan ketrampilan bekerjasama dalam satu tim. Selain itu pihak manajer sendiri harus menempatkan strategi perusahaan sebagai acuan dalam mencapai kinerja empat perspektif. Setiap karyawan didorong untuk membahas setiap program di tiap unitnya yang terkait dengan strategi perusahaan secara intensif dan berkelanjutan.
Tulisan Asli dari artikel ini dan tulisan-tulisan menarik lainnya tentang MSDM dapat juga diakses langsung melalui: SDM DAN BALANCED SCORECARD