Senin, 25 Mei 2009

SARANA DAN PRASARANA SEKOLAH MODEL UNGGULAN DI DKI JAKARTA

Beberapa Butir Pertimbangan 1
oleh
Prof.Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc.
A. Latar Belakang Pemikiran
1. Sarana dan prasarana sekolah adalah salah satu komponen dalam sistem
sekolah. Oleh karena itu keberadaannya harus selaras dengan komponen yang
lain, dan ditentukan berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan di sekolah.
2. Tidak ada satupun model yang memenuhi syarat untuk semua macam fungsi
dan tujuan pendidikan. SMU Ragunan misalnya berfungsi dan bertujuan untuk
melahirkan olahragawan yang unggul (aspek kinestetik). Pesantren Modern
Gontor berfungsi dan bertujuan untuk melahirkan untuk melahirkan keunggulan
dalam aspek spiritual dan sosial. Ke duanya memerlukan sarana &
prasarana yang berbeda.
3. Menurut teori multi inteligensi oleh Gardner, ada 10 jenis inteligensi yang ada
pada manusia, yaitu : bahasa, logikal-matematikal (akademik), musikal,
kinestetik, spasial, interpersonal, intrapersonal (sosial), natural, spritual, dan
eksistensial.
4. Keunggulan dalam aspek tertentu harus dilandaskan pada basis (kemampuan
dasar) yang sama dan perlu ditunjang oleh aspek inteligensi lain yang dianggap
perlu. Sarana dan prasarana perlu dikembangkan sesuai dengan pengembangan
aspek kemampuan yang diinginkan.
B. Pendekatan Pemikiran
1. Tujuan pendidikan untuk pengembangan potensi peserta didik secara optimal,
menyiratkan bahwa hasil (berkembangnya kemampuan optimal) pendidikan
lebih diutamakan dari proses diselenggarakannya pendidikan itu. Proses
pendidikan dapat dilangsungkan sesuai dengan kondisi lingkungan dan
karakteristik peserta didik, pada saat yang diperlukan (kapan saja), mengenai
materi yang serasi dengan kebutuhan (apa saja), serta dengan cara apa saja.
2. Penyelenggaraan proses pendidikan perlu dilakukan secara fleksibel dan
terbuka sehingga memungkinkan integrasi antara pendidikan sekolah dengan
luar sekolah, dan pendidikan umum dengan pendidikan kejuruan. Proses yang
fleksibel dan terbuka ini juga memungkinkan berkembangnya berbagai pola
belajar-pembelajaran, dimana peserta didik dapat belajar mandiri, belajar jarak
jauh, belajar di rumah (home-schooling), dan belajar dengan memanfaatkan
teknologi komunikaksi dan informasi.
3.Kegiatan belajar-pembelajaran perlu dilaksanakan untuk mengembangkan
kemandirian, sikap tanggung jawab dalam belajar dan mengemukakan
pendapat, berpikir secara teratur, kritis, disiplin, dan keberanian dalam
mengambil keputusan.
4. Agar supaya program belajar-pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif
dan efisien, diperlukan terciptanya lingkungan dan suasana yang menyenangkan
dan merangsang.
5. Lingkungan yang menyenangkan dan merangsang meliputi :
a. lingkungan fisik yang teratur dan tertib;
b. cahaya (penerangan) yang cukup;
c. suara yang tidak hingar-bingar;
d. temperatur yang tidak terlalu panas;
e. udara segar (tidak pengap);
f. tempat duduk yang enak dan mudah bergeser;
g. kesempatan bergerak yang leluasa (tidak sempit dan berdesakan);
h. pemandangan selaras;
i. dan lokasi yang mudah dicapai.
6. Lingkungan fisik perlu dirancang dan dikembangkan untuk memungkinkan
terselengaranya berbagai proses belajar dan pembelajaran yang menarik dan
merangsang.
7. Suasana yang menyenangkan dan merangsang adalah dimana kondisi fisik,
emosional, sosiologikal dan psikologikal mendapat perhatian dan penanganan
semestinya.
8. Kondisi fisik siswa maupun guru meliputi masukan energi (energy intake),
mobilitas dan durasi. Masukan energi memberikan daya untuk memicu kerja
jantung dan otak. Untuk itu perlu disediakan kesempatan untuk
menambah/memperbaharui masukan dengan minum dan makan. Mobilitas
merupakan kesempatan untuk bergerak guna menghilangkan kekakuan otot dan
kelelahan jaringan syaraf. Untuk itu perlu ada kesempatan untuk bergerak yang
relatif leluasa, baik di tempat duduk maupun di ruang kelas/sekolah. Faktor
durasi dalam kondisi fisik adalah rentangan waktu yang diperlukan dalam
mengaktifkan indera setelah menerima berbagai rangsangan. Oleh karena itu
guru perlu memperhatikan “attention span” dari para siswa dalam menerima
rangsangan verbal, visual dan/atau taktual.
9. Kondisi emosional meliputi motivasi, preservasi (ketangguhan), tanggung
jawab, dan kesetiakawanan. Kondisi emosional bergantung pada rangsangan
yang diterima dan pengalaman sebelumnya terhadap rangsangan yang
semacam. Kondisi ini terdiri atas tiga komponen dasar, yaitu komponen kognitif
(pikiran, keyakinan dan harapan) yang menentukan intensitas tanggapan;
komponen fisik yang meliputi perubahan dalam tubuh seperti tertawa, takut,
cemas, marah, pernafasan meningkat, detak jantung berdebar; dan komponen
perilaku yang merupakan ungkapan emosi melalui ekspresi wajah, nada suara,
dan gerak anggota tubuh. Kondisi emosional yang positif perlu dibangkitkan
dan dipelihara oleh guru dengan berbagai pendekatan seperti misalnya :
memberikan tugas dalam kelompok kecil, tugas mandiri, giliran tugas,
pemetaan pencapaian belajar (achivement mapping), penghargaan atas usaha,
kesabaran dalam menghadapi gaya belajar siswa yang berbeda dan
sebagainya.
10. Kondisi sosiologikal meliputi percaya diri, hubungan dengan teman sebaya,
hubungan dalam kelompok, dan pengakuan adanya otoritas secara vertikal
dan lateral. Percaya diri merupakan keyakinan seseorang akan kemampuannya
untuk melakukan hal-hal tertentu. Percaya diri ini meliputi : nilai-diri (selfworth)
yaitu perasaan tentang hal yang layak diperoleh; bangga-diri (selfesteem)
yaitu perasan bangga akan apa yang dapat dicapai; percaya-diri yaitu
keyakinan untuk dapat berhasil; harga-diri (self-respect) yaitu sikap
menyayangi atau menghormati diri; dan puas-diri (self-acceptance) yaitu
perasaan untuk menerima apa yang menjadi bagiannya. Hubungan dengan
teman sebaya merupakan interaksi antara sesama siswa dalam kelas, dalam
sekolah maupun siswa antar sekolah sejenjang, yang diperlukan untuk bertukar
dan saling menguji pengetahuan, pengalaman, minat (hobby), kemampuan, dan
keterampilan.. Hubungan dalam kelompok merupakan usaha saling membantu,
menghargaai dan bekerjasama dalam mengerjakan tugas bersama baik yang
diberikan oleh guru maupun atas prakarsa sendiri. Pengakuan adanya otoritas
merupakan pemahaman atas struktur, dan hirarki dalam suatu kelompok atau
organisasi. Pengakuan ini diwujudkan antara lain dengan menghormati dan
menaati peraturan, mematuhi petunjuk guru, mengikuti tata tertib kelas atau
organisasi. Kondisi ini perlu dipahami oleh guru dan dijabarkan serta diterapkan
dalam serangkaian cara dan pendekatan.
11. Kondisi psikologikal merupakan unsur-unsur bawaan (inborn elements)
maupun lingkungan yang mempengaruhi pola berpikir, bersikap dan bertindak
seseorang. Siswa yang berasal dari latar belakang keluarga dan sosial yang
berbeda dan dengan pembawaan yang berbeda pula perlu mendapat perhatian
dan penanganan yang memungkinkan pengakuan atas perbedaan tersebut.
Mengingat sangat bervariasinya kondisi ini, tidak ada satu reseppun yang dapat
berlaku secara umum. Berbagai teori, model, konsep dan prosedur
dikemukakan oleh para ahli dan praktisi. Namun semua ini memerlukan
kebijaksanaan (wisdom) dan kiat (art) guru dalam menghadapi siswanya.
Berbagai strategi dan metode perlu dipilih, dikembangkan dan digunakan oleh
guru sesuai dengan situasi, kondisi dan tujuan belajar.
12. Perlunya dilakukan perbandingan sarana & prasarana pendidikan di negara lain
baik secara langsung maupun tidak langsung (hasil wawancara dan telaah
dokumen), atau dengan lembaga pendidikan swasta dan/atau internasional di
dalam negeri yang telah mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan
zaman. Di Provinsi British Columbia misalnya, semua sekolah menengah
(Grade 10 –12) telah berusaha mengintegrasikan pendidikan umum dan
kejuruan sesuai kondisi lingkungan dan partisipasi masyarakat. Semua siswa
kelas 11 dan 12 wajib mengikuti program CAPP (Career and Personal
Planning) yang berisi antara lain kemampuan bekerja dalam bidang yang
diminati dan dalam bidang kerumahtanggaan (home-economics) seperti
mengatur makanan, memasak, menjahit, mencuci, dan mengelola kebersihan.
Ini semua ditujukan untuk membangun kepedulian atas lingkungan terdekat
siswa.
C. Implikasi Pengembangan
1. Berbagai pendekatan pemikiran tersebut di atas perlu dirumuskan implikasinya
secara operasional dalam wujud rancangan bangunan dan perabot yang minimal
(threshold) dan yang ideal (benchmark).
2. Secara konseptual alternatif itu mungkin dapat terdiri atas :
�� Alternatif I (Bangunan dan Perabot Sekolah Konvensional), yaitu SMU
seperti yang dikenal sekarang, namun yang memungkinkan berlangsungnya
proses belajar-pembelajaran yang lebih inovatif.
�� Alternatif II (Bangunan dan Perabot Sekolah Komprehensif), yaitu satuan
pendidikan menengah (SMU Komprehensif) yang memberikan kesempatan
pendidikan umum dan pendidikan kejuruan dalam suatu sekolah
komprehensif.
�� Alternatif III (Bangunan dan Perabot Sekolah Multi Fungsi), yaitu satuan
pendidikan menengah (SMU Integratif) yang memberikan pelayanan
dan/atau pengakuan atas program Pendidikan Luar Sekolah. Dalam sekolah
ini orang dewasapun dapat memperoleh pendidikan yang diperlukan.
Sementara itu peserta didik yang telah mengikuti program pendidikan di
luar sekolah (misalnya kursus komputer) dapat diakui sebagai program
kurikuler atau ko-kurikuler yang disyaratkan.
3. Posisi pusat sumber belajar (PSB) atau perpustakaan sebaiknya ada di tengah
(centralized postion) yang dikelilingi oleh kelas. Gedung PSB ini seyogyanya
memiliki :
a. Ruang koleksi buku teks, referensi, bacaan pengayaan dan ilmiah popular,
jurnal dan publikasi lain seperti surat kabar dan majalah
b. Ruang koleksi media audiovisual (peta, model, kaset, CD dsb)
c. Ruang baca/belajar mandiri (study carrels)
d. Ruang diskusi
e. Ruang baca umum/terbuka
f. Ruang kerja komputer (computer work-stations) yang tersambung internet
g. Ruang kreatif guru dan siswa.
4. Ruang kelas sebaiknya dirancang dalam dua kategori, yaitu untuk belajar
mandiri dan untuk mata pelajaran tertentu. Jadi ada kelas untuk pelajaran
matematika, biologi, fisika dsb., disamping kelas untuk belajar mandiri yang
juga dipakai bergantian. Sarana dan prasarana masing-masing kelas didesain
sebagai lingkungan yang merangsang dan guru untuk masing-masing mata
pelajaran berposisi di kelas tersebut. Siswa berrotasi menggunakan kelas-kelas
tersebut (jadi tidak ada kelas tetap untuk sejumlah siswa, dan bukan guru yang
berrotasi ke setiap kelas).
5. Kelas untuk mata pelajaran tertentu bukan laboratorium, karena laboratorium
digunakan untuk melakukan praktikum, percobaan dan pembuktian.
Laboratorium yang diperlukan adalah :
a. Laboratorium Fsika
b. Laboratorium Kimia
c. Laboratorium Komputer
d. Laboratorium Biologi
e. Laboratorium Bahasa
6. Disamping kelas dan laboratorium perlu dipertimbangkan adanya ruang karya
(workshops) dan studio. Ruang karya dapat meliputi sarana dan prasarana untuk
menguasai berbagai keterampilan dalam lingkungan rumahtangga seperti dapur
dan tempat cuci, bengkel listrik & elektronik dsb. Studio dapat meliputi
pelajaran dalam fotografi, seni musik, seni grafis, seni tari dsb.
D. Kesimpulan
1. Untuk dapat merancang kebutuhan sarana dan prasarana sebagai salah satu
komponen dalam sistem sekolah, perlu dijabarkan telebih dahulu visi, misi,
sasaran, fungsi dan tujuan pendidikan sekolah tersebut
2. Pengadaan sarana dan prasarana merupakan konsekuensi dari rumusan fungsi
dan tujuan pendidikan (aspek mana yang utamanya mau dikembangkan dsb.)
3. Satu macam model tidak mungkin meliputi segala macam keperluan untuk
pengembangan potensi optimal setiap anak-didik. Kondisi lingkungan dan
karakteristik anak-didik perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan model.
4. Usaha untuk mengembangkan pedoman pengadaan sarana dan prasarana secara
rinci tidak mungkin hanya dilaksanakan dari belakang meja. Diperlukan
kegiatan pengkajian lapangan, studi banding, serta dilakukan pembahasan
secara konseptual dan operasional dengan berbagai pihak yang berkepentingan
(stakeholders).
5. Spesifikasi teknis untuk masing-masing sarana dan prasarana perlu
dipersiapkan secara terperinci sesuai keperluan dan kualitasnya. Pengalaman
selama ini pengadaan sarana dan prasarana banyak yang mubazir karena
berorientasi pada harga yang murah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar